Jodie Sweetin Ungkap Alasan di Balik Penyalahgunaan Narkoba Saat Remaja: Ingin Diterima
Baca dalam 60 detik
- Aktris Full House, Jodie Sweetin, mengaku menggunakan narkoba di masa remaja agar tidak dicap sombong oleh teman-teman sekolahnya.
- Tekanan menjadi bintang TV membuatnya merasa perlu bertindak lebih buruk dari yang lain untuk membuktikan dirinya tidak angkuh.
- Setelah puluhan tahun bergumul dengan kecanduan, Sweetin kini menjalani terapi dan menemukan jati diri yang sebenarnya.

Jodie Sweetin, aktris yang dikenal lewat perannya sebagai Stephanie Tanner di serial Full House, mengungkapkan bahwa ia sengaja mengonsumsi narkoba saat remaja agar tidak dianggap sombong oleh teman-teman sekolahnya. Pengakuan ini disampaikan dalam podcast Inside of You bersama Michael Rosenbaum, menambah daftar panjang perjuangannya melawan kecanduan.
Sweetin, yang bergabung dengan Full House sejak usia lima tahun, merasa tertekan setelah serial tersebut berakhir pada 1995. Saat memasuki sekolah menengah, ia mendengar rumor bahwa ia dianggap sebagai "bintang TV yang sombong". Untuk membuktikan sebaliknya, ia justru berusaha bertindak lebih buruk dari teman-temannya. "Aku ingin membuat mereka nyaman, jadi aku akan lebih parah dari mereka. 'Aku tidak merasa lebih baik darimu. Aku akan lebih mabuk. Aku akan pakai lebih banyak narkoba,'" ujarnya.
Selama bertahun-tahun, Sweetin bergumul dengan identitas dirinya. Ia kerap bertanya-tanya apakah orang-orang menyukainya karena ketenarannya atau karena dirinya yang sebenarnya. Dalam podcast tersebut, ia mengaku menghabiskan sebagian besar hidupnya hingga usia pertengahan 30-an dengan terus mencari validasi. "Aku tidak tahu siapa diriku. Aku harus mengacaukan hubungan, berselingkuh, berbohong, dan bergaul dengan orang-orang beracun," katanya.
Perjalanan panjang menuju pemulihan dimulai saat ia menyadari bahwa pendekatannya selama ini keliru. Setelah berhasil lepas dari kecanduan, Sweetin menjalani terapi dan menggali masa lalunya. Ia menemukan bahwa ia jarang membuat keputusan sendiri. "Aku membiarkan orang lain memilih untukku, dan aku tidak pernah bertanya pada diriku sendiri, 'Apa yang kamu inginkan?'" ungkapnya.
Kisah Sweetin menjadi pengingat akan tekanan yang dihadapi para mantan bintang cilik. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi pada artis cilik yang kesulitan beradaptasi setelah popularitasnya memudar. Psikolog anak dan remaja, Dr. Ratna Wulandari, menilai bahwa lingkungan sekolah yang tidak mendukung dapat memperparah krisis identitas. "Mereka sering kali merasa terisolasi dan berusaha keras untuk diterima, bahkan dengan cara yang merugikan diri sendiri," ujarnya.
Saat ini, Sweetin yang telah menikah dengan Mescal Wasilewski dan memiliki dua anak, mengaku merasa jauh lebih baik. Ia tidak lagi membenci dirinya sendiri dan tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. "Ternyata ini terasa jauh lebih baik. Aku benar-benar tidak membenci diriku dan tidak merasa harus menjadi orang lain," pungkasnya. Pertanyaannya, akankah industri hiburan dan sistem pendidikan mampu memberikan dukungan yang lebih baik bagi mantan bintang cilik agar tidak mengalami nasib serupa?



