Drew Scott: Momen 'Memilukan' Bersama Anak yang Mengubah Cara Pandangnya terhadap Hidup dan Karier
Baca dalam 60 detik
- Aktor Property Brothers, Drew Scott, mengaku tersentak setelah putranya menirukan kebiasaannya sibuk dengan ponsel saat di rumah.
- Kejadian itu mendorong Scott untuk secara sadar mengurangi waktu layar dan lebih hadir secara fisik dan emosional bagi kedua anaknya.
- Pesan Scott tentang prioritas hidup bergema di tengah budaya kerja intensif yang juga lazim di kalangan pekerja Indonesia.

Bintang acara properti Amerika, Drew Scott, baru saja mengalami momen yang ia sebut sebagai 'pukulan keras' yang mengubah cara ia memandang keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Saat pulang ke rumah, putranya yang berusia empat tahun, Parker, bukannya menyambut dengan pelukan, melainkan lari menjauh dan kemudian berpura-pura menelepon dengan mainan sambil berkata, 'Aku sedang dalam panggilan bisnis.' Adegan itu, menurut Scott, sangat memilukan karena ia sadar anaknya hanya meniru kebiasaannya yang terus-menerus menempel pada ponsel.
Dalam unggahan video di Instagram pada Selasa (26/6/2023), Scott yang kini berusia 48 tahun mengaku bahwa kejadian tersebut menjadi titik balik. Ia menyadari bahwa kehadiran fisiknya di rumah tidak berarti apa-apa jika ia terus tenggelam dalam layar ponsel. "Saya pulang, dan ketika saya minta pelukan, dia malah kabur. Lalu dia mengambil mainan dan mulai mondar-mandir sambil pura-pura menelepon. Itu benar-benar menyadarkan saya," ujarnya.
Scott, yang juga memiliki putri berusia dua tahun bernama Piper bersama istrinya, Linda Phan, menekankan bahwa keseimbangan dengan keluarga sangat penting. Ia mulai mengubah kebiasaannya dengan sengaja meluangkan waktu untuk hadir dalam momen-momen kecil, seperti kelas musik Piper. "Ini hal kecil, tapi saya bisa melihat kegembiraan di wajah Piper. Jika saya terus sibuk dengan panggilan saat makan siang, saya akan melewatkan momen-momen krusial dalam hidup anak-anak saya," tambahnya.
Fenomena yang dialami Scott bukanlah hal asing, terutama di Indonesia di mana budaya kerja keras dan jam kerja panjang seringkali mengorbankan waktu bersama keluarga. Banyak orang tua di kota-kota besar mengaku kesulitan memisahkan urusan pekerjaan yang dibawa pulang melalui ponsel. Psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Hildayani, menilai bahwa kesadaran seperti yang ditunjukkan Scott adalah langkah awal yang penting. "Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang dikatakan. Jika orang tua terus sibuk dengan gawai, anak akan menganggap bahwa interaksi digital lebih penting daripada kehadiran fisik," jelasnya.
Scott mengakhiri videonya dengan pesan universal: tetapkan prioritas Anda. Ia mengingatkan bahwa di akhir karier atau kehidupan, yang tersisa bukanlah lembar kerja, melainkan hubungan dengan orang-orang tercinta. "Akan terasa hampa jika Anda melihat ke belakang dan hanya melihat pekerjaan. Jangan menjadi orang yang terus mengecek ponsel saat sedang bersama keluarga," pungkasnya.
Pertanyaan yang kini menggantung: apakah para pekerja profesional, khususnya di Indonesia yang dikenal memiliki tingkat stres kerja tinggi, mampu meniru langkah Scott sebelum terlambat? Ataukah budaya 'selalu sibuk' akan terus mengikis momen-momen berharga bersama keluarga?



