Buku Ejaan Anak Penuh Stereotip Gender: Ibu di Dapur, Ayah di Kantor
Baca dalam 60 detik
- Seorang ibu di Singapura menemukan buku ejaan anak kelas 1 SD berisi kalimat contoh yang sarat stereotip gender, seperti 'Ibu membuat kue' dan 'Ayah pulang kerja larut'.
- Temuan ini memicu kekhawatiran tentang bagaimana materi pembelajaran sederhana dapat membentuk persepsi anak tentang peran gender sejak dini.
- Orang tua berharap sekolah secara berkala meninjau ulang materi ajar untuk menghilangkan bias dan mencerminkan kesetaraan gender.

Seorang ibu di Singapura dikejutkan saat menemukan buku ejaan putrinya yang duduk di kelas 1 SD berisi kalimat-kalimat contoh yang kental dengan stereotip gender. Dalam buku tersebut, perempuan digambarkan selalu berada di dapur—memasak, menjahit, atau berteriak melihat cicak—sementara laki-laki bekerja hingga larut malam, membaca koran, atau menjadi koki.
Penelope Chan, senior editor CNA Women, menceritakan pengalamannya saat putri bungsunya membawa pulang buku ejaan. Awalnya ia senang karena buku itu menyertakan kalimat contoh untuk setiap kata. Namun, kegembiraan itu sirna saat ia membaca kalimat seperti “Ibu membuat kue”, “Nenek menjahitkan gaun untukku”, dan “Ayah pulang kerja larut setiap hari”. Yang paling mengganggu adalah kalimat “Ibu berteriak saat melihat cicak”.
Chan mengaku khawatir anak-anaknya—baik perempuan maupun laki-laki—akan menyerap pesan sempit tentang peran gender. “Saya tidak ingin anak laki-laki saya berpikir mereka tidak bisa menjadi perawat atau ayah rumah tangga, atau anak perempuan saya tidak bisa menjadi tentara atau CEO,” tulisnya dalam artikel yang dimuat CNA. Ia juga menyoroti bahwa buku ejaan tersebut digunakan dari tahun ke tahun tanpa pernah ditinjau ulang.
Fenomena serupa juga ditemukan di lembar kerja taman kanak-kanak, di mana perawat selalu perempuan, ibu memakai celemek, sementara dokter dan polisi adalah laki-laki. Chan menilai, meskipun terlihat sepele, akumulasi pesan semacam ini dapat membentuk stereotip yang kokoh pada anak. “Dari hal-hal kecil yang tak terduga, stereotip raksasa yang tak tergoyahkan akhirnya terbangun,” ujarnya.
Di Indonesia, isu stereotip gender dalam materi pembelajaran juga menjadi perhatian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa buku teks di Indonesia masih kerap menampilkan peran gender yang bias, seperti ibu yang mengurus rumah tangga dan ayah yang bekerja. Hal ini berpotensi membatasi aspirasi anak, terutama perempuan, dalam memilih karier di bidang sains, teknologi, atau kepemimpinan.
Chan telah menyampaikan kekhawatirannya kepada guru putrinya dalam pertemuan orang tua-guru. Guru tersebut berjanji akan menyampaikan masukan, namun mengakui bahwa buku untuk tahun berikutnya sudah dicetak. Chan berharap pada tahun 2027, buku ejaan untuk kelas 3 SD akan mencerminkan gambaran yang lebih inklusif tentang perempuan dan laki-laki.
Di rumah, Chan dan suaminya berusaha menanamkan nilai kesetaraan dengan tidak melarang anak-anak melakukan sesuatu berdasarkan gender. Semua anak—laki-laki dan perempuan—diwajibkan menyapu, mencuci piring, dan memasak. “Anak laki-laki saya justru lebih takut pada serangga terbang dibanding saudara perempuannya,” katanya. Upaya ini tampaknya membuahkan hasil: putri sulungnya menulis surat pada Hari Ibu yang berterima kasih karena telah dibesarkan menjadi perempuan yang kuat dan mandiri.
Pertanyaan yang tersisa: akankah sekolah-sekolah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mulai meninjau ulang materi ajar mereka untuk menghilangkan bias gender? Ataukah orang tua harus terus menjadi filter utama bagi anak-anak mereka?



