PM Jepang dan Kepala IAEA Perkuat Kerja Sama Nuklir, Isu Fukushima hingga Korea Utara Dibahas
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi sepakat memperkuat kolaborasi di bidang energi nuklir dan nonproliferasi.
- Pertemuan tersebut juga membahas pemantauan keamanan air limbah Fukushima serta pengembangan reaktor nuklir generasi baru.
- Kerja sama ini berpotensi mempengaruhi dinamika keamanan regional Asia, termasuk dalam isu program nuklir Korea Utara.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang energi nuklir dan nonproliferasi, Jumat (27/6/2025). Pertemuan di Tokyo ini juga menjadi momentum bagi Takaichi untuk menyampaikan apresiasi atas dukungan IAEA dalam pemulihan pascabencana PLTN Fukushima Daiichi yang hancur akibat gempa dan tsunami 2011.
"Saya sangat menghargai kerja sama yang diberikan untuk proses penonaktifan (PLTN) dan rekonstruksi Fukushima," ujar Takaichi kepada Grossi, yang sebelumnya mengunjungi kompleks nuklir yang rusak di timur laut Jepang pada Rabu (25/6).
Jepang dan IAEA telah lama bekerja sama dalam memastikan keamanan air limbah radioaktif yang telah diolah dan dibuang ke Samudra Pasifik dari PLTN Fukushima. Langkah ini menuai kritik dari China, namun IAEA terus melakukan pemantauan ketat. Selama kunjungannya, Grossi turut serta dalam pengambilan sampel air laut bersama para ahli internasional dari China, Korea Selatan, dan Swiss di dekat PLTN tersebut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tingkat radioaktivitas masih jauh di bawah batas aman.
Selain isu Fukushima, Takaichi dan Grossi juga membahas kerja sama dalam menghadapi program pengembangan nuklir Korea Utara. Keduanya sepakat untuk terus berkoordinasi dalam upaya denuklirisasi Semenanjung Korea. "Kami terus berharap dialog dapat dimulai kembali sesegera mungkin untuk mengatasi kekhawatiran sah masyarakat internasional tentang program ini," kata Grossi dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi.
Motegi, yang juga bertemu Grossi secara terpisah, memuji upaya IAEA dalam menangani isu nuklir Iran dan Korea Utara. Pertemuan ini menegaskan kembali peran sentral IAEA sebagai pengawas nuklir global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara yang aktif dalam forum internasional dan memiliki kepentingan terhadap keamanan maritim serta energi bersih, kerja sama Jepang-IAEA dapat menjadi referensi dalam pengelolaan teknologi nuklir. Indonesia sendiri tengah menjajaki opsi energi nuklir sebagai bagian dari transisi energi, sehingga pemantauan ketat dan standar keselamatan tinggi seperti yang diterapkan di Fukushima menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, kolaborasi antara Jepang dan IAEA diperkirakan akan semakin erat, terutama dalam pengembangan reaktor nuklir generasi berikutnya dan energi fusi. Namun, pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan internasional terhadap program nuklir Korea Utara masih menggantung. Akankah dialog yang diharapkan Grossi segera terwujud, atau justru ketegangan semakin meningkat?



