Serangan Udara Pakistan ke Afghanistan: 28 Warga Sipil Tewas, PBB Desak Penghentian Kekerasan
Baca dalam 60 detik
- Misi PBB di Afghanistan mengonfirmasi serangan udara Pakistan menewaskan sedikitnya 28 warga sipil dan melukai 49 lainnya, dengan jumlah korban diperkirakan bertambah.
- Pakistan mengklaim serangan itu menargetkan militan, namun Afghanistan melaporkan 38 warga sipil tewas dan mengecam sebagai pelanggaran kedaulatan.
- Ketegangan antara Islamabad dan Kabul meningkat tajam, mengancam stabilitas kawasan Asia Selatan dan berpotensi memicu konflik terbuka.

Setidaknya 28 warga sipil tewas dan 49 lainnya luka-luka dalam serangan udara yang dilancarkan Pakistan di wilayah perbatasan Afghanistan pada Minggu (29/6), menurut laporan Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA). Serangan ini merupakan yang kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir dan memicu kecaman keras dari pemerintah Afghanistan serta kekhawatiran akan eskalasi konflik antara kedua negara tetangga yang sempat bersekutu.
UNAMA menyatakan bahwa jumlah korban masih dapat bertambah karena rumah sakit setempat terus merawat para korban luka. Serangan yang menyasar tiga provinsi—Paktia, Paktika, dan Kunar—ini diklaim Pakistan sebagai operasi terhadap kelompok militan yang bersembunyi di Afghanistan. Namun, data dari PBB dan pemerintah Afghanistan menunjukkan mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Juru bicara pemerintah Afghanistan, Hamdullah Fitrat, mengungkapkan bahwa 38 warga sipil tewas dan 163 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Sebagian besar korban berasal dari satu rumah di Provinsi Paktia yang dihantam bom jet Pakistan, menewaskan 28 orang dan melukai 158. “Semua orang sedang tidur ketika pesawat datang dan menyerang rumah ini. Di dalam rumah ada anak-anak, perempuan, laki-laki, dan orang tua,” ujar seorang warga bernama Mata Khan kepada media setempat.
Pakistan membela tindakannya dengan menyebut serangan itu sebagai respons terhadap “beberapa insiden teroris baru-baru ini”, termasuk serangan bom dan tembakan di fasilitas Pasukan Rangers Sindh di Karachi pada Sabtu (28/6) yang menewaskan tiga personel paramiliter. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa pasukan keamanan “secara tepat menyerang kamp-kamp teroris dan tempat persembunyian mereka”.
Di sisi lain, Wakil Menteri Informasi Afghanistan, Mohajer Farahi, menegaskan bahwa “serangan ini pasti akan dibalas pada waktu yang tepat”. Ketegangan antara Islamabad dan Kabul sebenarnya sudah memanas sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021. Pakistan kerap menuduh Afghanistan melindungi militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang bertanggung jawab atas serangan di wilayah Pakistan. Tuduhan itu dibantah Kabul, yang menyebut masalah militan adalah urusan internal Pakistan.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik Pakistan-Afghanistan menjadi perhatian serius. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia memiliki kepentingan dalam menjaga stabilitas kawasan Asia Selatan. Ketegangan yang berkepanjangan dapat memicu gelombang pengungsi baru dan memperkuat jaringan kelompok ekstremis transnasional, yang berpotensi mengancam keamanan regional termasuk Indonesia. Selain itu, konflik ini juga menguji efektivitas diplomasi multilateral, mengingat PBB dan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China belum mampu meredam sengketa perbatasan yang kian memanas.
Dengan kedua pihak saling mengklaim korban dan terus melancarkan serangan, pertanyaan besarnya adalah: akankah ada mekanisme de-eskalasi yang efektif, atau justru konfrontasi terbuka semakin tak terhindarkan? Pengalaman menunjukkan bahwa serangan balasan hanya akan memperdalam luka dan memperumit upaya perdamaian di Afghanistan yang sudah rapuh.



