Mesir Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026, Iran Masih Menanti Nasib
Baca dalam 60 detik
- Mesir untuk pertama kalinya dalam sejarah menembus babak knockout Piala Dunia setelah bermain imbang 1-1 melawan Iran di laga pamungkas Grup G.
- Iran harus bergantung pada hasil pertandingan grup lain untuk bisa lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik.
- Kiper Mesir, Mostafa Shobeir, menjadi pahlawan dengan menggagalkan penalti Mehdi Taremi dan beberapa peluang emas Iran.

Mesir memastikan tempat di babak gugur Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka setelah bermain imbang 1-1 melawan Iran di laga penutup Grup G, Selasa (25/6) waktu setempat. Hasil ini membuat Mesir lolos sebagai runner-up grup dan akan berhadapan dengan Australia di babak 32 besar, sementara Iran masih harus menunggu hasil pertandingan grup lain untuk menentukan nasib mereka.
Laga yang berlangsung sengit di Stadion Internasional Khalifa, Doha, itu menyajikan drama sejak menit awal. Mesir unggul cepat melalui gol Mahmoud Saber pada menit kelima, memanfaatkan bola muntah hasil tendangan Mohamed Salah yang ditepis kiper Iran, Alireza Beiranvand. Namun, keunggulan Mesir tidak bertahan lama. Iran mendapat hadiah penalti pada menit kesembilan setelah Mehdi Taremi dilanggar Mohamed Abdelmonem. Sayang, eksekusi Taremi berhasil ditebak kiper Mesir, Mostafa Shobeir.
Shobeir kembali menunjukkan ketangguhannya dengan menggagalkan peluang Milad Mohammadi, meski akhirnya harus memungut bola dari gawangnya setelah Ramin Rezaeian bereaksi paling cepat memanfaatkan bola liar dan mencetak gol dari sudut sempit pada menit ke-14. Kiper muda Mesir itu nyaris melakukan blunder besar menjelang turun minum ketika salah mengantisipasi umpan silang, tetapi beruntung Shoja Khalilzadeh menyundul bola ke samping gawang.
Pada babak kedua, Mesir mendominasi penguasaan bola, sadar bahwa hasil pertandingan lain antara Belgia dan Selandia Baru bisa memengaruhi posisi akhir mereka di grup. Belgia yang unggul 2-0 atas Selandia Baru memastikan mereka sebagai juara grup, sehingga Mesir puas finis di posisi kedua. Iran nyaris mencuri kemenangan di masa injury time melalui gol Shojae Khalilzadeh, tetapi dianulir karena offside setelah tinjauan VAR. Shobeir kemudian kembali menggagalkan peluang Saeid Ezatolahi untuk memastikan hasil imbang.
Bagi Indonesia, perjalanan Mesir dan Iran di Piala Dunia 2026 bisa menjadi pelajaran berharga. Kedua tim menunjukkan bahwa determinasi dan pertahanan yang solid mampu membawa tim non-unggulan bersaing di panggung terbesar sepak bola. Dengan sistem baru 48 tim, peluang bagi negara seperti Indonesia untuk lolos di masa depan semakin terbuka, asalkan pembinaan dan infrastruktur sepak bola terus ditingkatkan.
Nasib Iran kini bergantung pada hasil pertandingan di Grup J, K, dan L yang akan berlangsung dalam beberapa jam ke depan. Jika cukup banyak tim peringkat ketiga yang mengumpulkan poin lebih sedikit, Iran bisa lolos. Namun, jika tidak, mereka harus pulang lebih awal. Pertanyaan besarnya: akankah Iran menjadi tim Asia pertama yang lolos sebagai peringkat ketiga terbaik, atau justru gagal di ambang pintu?



