Gol Emosional Gakpo Usai Kehilangan Anak: Duka di Balik Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Cody Gakpo mencetak gol untuk Belanda hanya beberapa hari setelah pasangannya mengumumkan keguguran bayi laki-laki mereka.
- Pemain Liverpool itu tetap bertahan di skuad Oranye meski tengah berduka, menunjukkan profesionalisme tinggi.
- Belanda akhirnya tersingkir di babak 16 besar setelah kalah adu penalti dari Maroko.

Gol yang dicetak Cody Gakpo ke gawang Maroko pada babak 16 besar Piala Dunia bukan sekadar torehan angka. Itu adalah luapan emosi dari seorang pemain yang baru saja kehilangan anak yang belum lahir. Penyerang Liverpool berusia 27 tahun itu membuka skor pada menit ke-72, lalu berlutut dan menangis di tengah pelukan rekan setimnya.
Kabar duka datang dari pasangan Gakpo, model Noa van der Bij, yang mengumumkan pada Sabtu (3/12) bahwa bayi laki-laki mereka, Elijah Raphael Gakpo, meninggal dalam kandungan. Pasangan itu sudah memiliki seorang anak dan sedang menanti kelahiran kedua yang dijadwalkan pada Oktober. Meski diterpa musibah, Gakpo memilih tetap membela timnas Belanda di Piala Dunia Qatar.
Pertandingan melawan Maroko berlangsung sengit. Setelah gol Gakpo, Issa Diop menyamakan kedudukan di masa injury time, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Skor 1-1 bertahan hingga akhir, dan Maroko akhirnya menang 3-2 dalam adu penalti. Gakpo, yang telah mencetak tiga gol di turnamen, ditarik keluar pada menit ke-113 dan tidak ikut menendang penalti.
Kapten Belanda dan Liverpool, Virgil van Dijk, menjadi salah satu yang pertama memeluk Gakpo setelah gol. โDia adalah pejuang,โ kata van Dijk dalam wawancara pascapertandingan. โKami semua mendukungnya. Keluarga adalah segalanya, dan dia tetap memberikan segalanya untuk tim.โ
Kisah Gakpo mengingatkan pada tekanan mental yang dihadapi atlet profesional. Di Indonesia, isu kesehatan mental atlet mulai mendapat perhatian, meskipun masih jarang dibahas secara terbuka. Kasus Gakpo menunjukkan bahwa dukungan tim dan lingkungan sangat penting ketika pemain menghadapi tragedi pribadi.
Piala Dunia Qatar memang penuh dengan cerita emosional, tetapi perjalanan Gakpo menjadi salah satu yang paling mengharukan. Ia bermain dengan hati yang hancur, namun tetap profesional hingga akhir. Pertanyaan yang tersisa: bagaimana ia akan bangkit setelah turnamen ini, dan apakah pengalaman ini akan memperkuat mentalnya di masa depan?



