Bank Thailand Finalisasi Aturan Stablecoin Baht, Siap Uji Publik Tahun Ini
Baca dalam 60 detik
- Bank of Thailand akan merampungkan kerangka regulasi stablecoin Baht Thailand pada 2026 atau awal 2027, dengan fokus pada efisiensi pembayaran dan penyelesaian transaksi digital.
- Stablecoin ini dibedakan dari aset kripto spekulatif dan dirancang untuk mendukung infrastruktur keuangan jangka panjang, termasuk perdagangan kredit karbon.
- Langkah ini menandai pergeseran sikap bank sentral Thailand dari sebelumnya hati-hati menjadi lebih akomodatif terhadap aset digital, namun tetap dengan pendekatan bertahap.

Bank of Thailand (BoT) akan segera merilis kerangka regulasi untuk stablecoin berbasis Baht Thailand, menandai babak baru dalam transformasi keuangan digital negara tersebut. Gubernur BoT, Vitai Ratanakorn, mengungkapkan bahwa studi desain stablecoin sudah memasuki tahap akhir dan uji publik dijadwalkan dalam beberapa bulan ke depan, dengan aturan formal ditargetkan rampung pada 2026 atau awal 2027.
Stablecoin Baht Thailand dirancang untuk menjadi alat pembayaran dan penyelesaian transaksi digital yang efisien, bukan sebagai instrumen investasi spekulatif. BoT menekankan bahwa aset digital ini akan berfungsi sebagai infrastruktur keuangan yang mempercepat pemrosesan transaksi dan meningkatkan efisiensi sistem keuangan secara keseluruhan. Langkah ini mencerminkan perubahan sikap bank sentral yang sebelumnya cenderung hati-hati terhadap aset digital, kini mulai mengakomodasi perkembangan global.
Selain untuk pembayaran, BoT juga menjajaki penggunaan stablecoin dalam perdagangan kredit karbon. Integrasi ini diharapkan mendukung transisi Thailand menuju ekonomi rendah karbon dan target net-zero emission. Bank sentral berencana mengizinkan bank komersial dan lembaga keuangan untuk memperluas aktivitas terkait stablecoin secara bertahap, termasuk dalam transaksi terkait kredit karbon dan produk keuangan hijau.
Pendekatan BoT yang bertahap ini dinilai sebagai strategi yang bijak untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Pejabat BoT menekankan bahwa pengembangan akan dilakukan secara evolusioner, bukan revolusioner, agar semua pemangku kepentingan memiliki waktu untuk beradaptasi. Langkah ini juga mengindikasikan bahwa Thailand tidak akan terburu-buru mengadopsi perubahan yang disruptif, melainkan memastikan kesiapan institusi dan manajemen risiko yang matang.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Sebagai negara tetangga dengan ekosistem digital yang tumbuh pesat, Indonesia dapat belajar dari pendekatan Thailand dalam merumuskan regulasi stablecoin yang seimbang antara inovasi dan stabilitas. Bank Indonesia sendiri tengah mengembangkan Rupiah Digital (CBDC) yang memiliki fungsi serupa, namun belum secara spesifik membahas stablecoin berbasis rupiah. Langkah Thailand bisa menjadi tolok ukur bagi regulator di kawasan dalam menyikapi aset digital yang semakin terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional.
Ke depan, implementasi kerangka stablecoin ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam transformasi keuangan digital Thailand. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana adopsi stablecoin ini akan mengubah lanskap pembayaran ritel dan sistem penyelesaian di Thailand, serta apakah negara-negara ASEAN lainnya akan mengikuti jejak serupa.



