Anthoni Salim Tebar Dividen Rp265 per Saham ICBP, Yield Menarik di Tengah Koreksi Harga
Baca dalam 60 detik
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) akan membagikan dividen tunai Rp265 per saham pada 28 Juli 2026, setelah mendapat restu RUPST.
- Kebijakan dividen ini mencerminkan komitmen ICBP menjaga imbal hasil pemegang saham di tengah tekanan harga saham yang sempat turun 1,86% ke level 6.600.
- Dengan portofolio merek global dan 60 pabrik di dalam negeri, langkah ini memperkuat posisi ICBP sebagai emiten consumer goods paling likuid di bursa.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp265 per saham kepada para pemegang saham, menyusul persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 29 Juni 2026. Keputusan ini menjadi sinyal positif bagi investor di tengah fluktuasi harga saham emiten mi instan terbesar di Indonesia tersebut.
Pembayaran dividen dijadwalkan pada 28 Juli 2026, dengan cum date yang akan ditentukan kemudian. Langkah ini diambil setelah pemegang saham juga menerima Laporan Tahunan Direksi yang mencakup kinerja keuangan tahun buku 2025. Direktur Utama ICBP Anthoni Salim menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan dan menegaskan komitmen perseroan untuk terus menciptakan nilai tambah serta mempertahankan posisi sebagai pemimpin industri makanan dan minuman.
ICBP, yang menaungi merek-merek legendaris seperti Indomie, Pop Mie, Chitato, Indomilk, dan Teh Ichi Ocha, merupakan salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di Indonesia. Perusahaan ini tidak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga mengekspor produk ke lebih dari 100 negara dan didukung oleh lebih dari 60 pabrik di dalam negeri serta 20 fasilitas produksi di luar negeri. Skala operasi yang masif ini menjadi fondasi bagi kemampuan ICBP dalam menjaga profitabilitas dan arus kas.
Kebijakan dividen ini menarik perhatian karena saham ICBP sempat terkoreksi 1,86% ke level 6.600 pada perdagangan Jumat (26/6/2026), sebelum pulih tipis 0,76% ke 6.650 pada hari pengumuman. Dengan yield dividen sekitar 4%, ICBP menawarkan imbal hasil yang kompetitif di tengah suku bunga acuan yang masih relatif tinggi. Bagi investor ritel Indonesia, dividen tunai ini menjadi sumber pendapatan pasif yang dinantikan, terutama di tengah volatilitas pasar modal.
"Kami tetap berkomitmen untuk menciptakan nilai tambah dan mempertahankan posisi ICBP sebagai pemimpin di industri makanan dan minuman," ujar Anthoni Salim dalam siaran pers perusahaan.
Ke depan, investor akan mencermati apakah ICBP mampu mempertahankan tren pertumbuhan laba di tengah tekanan biaya bahan baku dan persaingan ketat. Dengan fundamental yang solid dan ekspansi global yang terus berlanjut, dividen ini menjadi salah satu indikator kepercayaan manajemen terhadap prospek bisnis. Pertanyaan yang muncul: akankah ICBP kembali meningkatkan dividen tahun depan seiring ekspektasi pemulihan daya beli masyarakat?



