Saham Undervalued: Cara Cerdas Memilih Emiten di Tengah Ribuan Pilihan
Baca dalam 60 detik
- Analis menyarankan investor pemula fokus pada emiten dengan model bisnis yang dekat dengan keseharian, seperti GoTo, untuk memudahkan penilaian fundamental.
- GoTo mencatatkan laba bersih dua kuartal beruntun dan EBITDA di atas Rp1 triliun, namun harga sahamnya masih di level rendah, menandakan potensi undervalue.
- Kunci investasi jangka panjang adalah mencocokkan cerita bisnis dengan angka keuangan, bukan sekadar memburu harga murah tanpa memahami prospek perusahaan.

Di tengah hampir seribu emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, investor pemula kerap kebingungan memilih saham yang tepat. Alih-alih sekadar memburu harga murah, para ahli menekankan pentingnya memahami model bisnis perusahaan dan mencocokkannya dengan kinerja keuangan. Pendekatan ini menjadi krusial, terutama bagi mereka yang memiliki modal terbatas dan profil risiko menengah.
Financial Educator dan Content Creator Kayleen M menggarisbawahi bahwa investor sebaiknya memulai dari perusahaan yang produk atau layanannya familiar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengenali bagaimana perusahaan menghasilkan uang, investor memiliki gambaran awal yang kuat sebelum menilai laporan keuangan. "Kita harus memilih mana yang sesuai kompetensi kita dan kita memang tahu barang-barangnya," ujarnya dalam diskusi bertajuk "Mindfull Spending" di Kemang, beberapa waktu lalu.
Salah satu contoh yang sering diangkat adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Model bisnisnya yang mudah dipahami—mulai dari layanan ojek daring hingga dompet digital—menjadikannya lahan subur bagi investor ritel. Namun, mengenal produk saja tidak cukup. Investor perlu melihat apakah perbaikan kinerja benar-benar tercermin dalam angka. GoTo sendiri mencatatkan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II-2026, naik 47,4 persen dari kuartal sebelumnya, dan pendapatan bersih Rp5,7 triliun, tumbuh 31 persen secara tahunan.
Yang lebih menarik, EBITDA Grup yang disesuaikan melonjak 137 persen secara tahunan dan untuk pertama kalinya menembus Rp1 triliun. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa model bisnis GoTo mulai menunjukkan jalur profitabilitas yang jelas. Meski demikian, harga sahamnya masih bertahan di level Rp50 per saham, jauh dari fundamental yang membaik. Kondisi inilah yang membuat sejumlah analis menilai GOTO sebagai saham undervalued yang layak dilirik.
Namun, Kayleen mengingatkan bahwa kerangka penilaian ini tidak hanya berlaku untuk GOTO. Di sektor pertambangan, misalnya, investor dapat mempelajari rencana ekspansi perusahaan dan mencocokkannya dengan laporan keuangan. "Ketika ceritanya cocok dengan angkanya, baru sebagai investor kita punya keyakinan," katanya. Ia juga menyarankan agar investor tidak menelan mentah-mentah laporan riset analis, melainkan memahami kerangka berpikir mereka dan menarik kesimpulan sendiri.
Sosiopreneur dan pegiat investasi Fajar Widi sependapat. Ia menekankan bahwa investor membeli bisnis, bukan sekadar saham. "Kita harus mengerti yang kita belikan bukan sahamnya, tapi bisnisnya," tegasnya. Fajar menggambarkan bagaimana layanan seperti Gojek telah menjadi bagian esensial dari kehidupan masyarakat. Jika layanan itu tiba-tiba dihentikan, akan muncul reaksi emosional yang kuat—tanda bahwa produk tersebut telah melewati batas sebagai sekadar komoditas.
Fajar menambahkan, "Ketika sebuah bisnis sudah menyentuh ranah esensi, itu yang menurut saya keren banget. Karena the rest is just data." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya menilai dampak sosial dan kebutuhan pasar yang kuat sebelum memutuskan berinvestasi. Harga murah baru menarik jika ditopang oleh bisnis yang produknya dibutuhkan dan prospeknya masih terbuka lebar.
Di sektor batu bara, misalnya, saham seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dinilai memiliki valuasi terdiskon. Namun, daya tariknya bukan semata karena harga murah, melainkan karena prospek bisnis, potensi perbaikan kinerja, dan kemampuan menghasilkan dividen. Investor perlu melihat apakah perusahaan memiliki rencana ekspansi yang jelas dan apakah rencana itu berdampak pada kinerja keuangan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah investor ritel Indonesia akan semakin jeli dalam memilih saham berbasis fundamental, atau masih tergoda oleh harga murah tanpa memahami bisnisnya? Dengan semakin banyaknya emiten dan meningkatnya literasi keuangan, harapannya adalah pendekatan yang lebih matang akan mendominasi keputusan investasi. Pada akhirnya, conviction investor—keyakinan yang dibangun dari pemahaman mendalam—akan menjadi pembeda antara spekulasi jangka pendek dan investasi jangka panjang yang menguntungkan.



