Yen Tembus Level Terendah 39 Tahun, Kekhawatiran Intervensi Jepang Menguat
Baca dalam 60 detik
- Yen jatuh ke level terendah sejak 1986 di kisaran 162 per dolar AS, dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Bank of Japan telah menaikkan suku bunga ke 1%, namun selisih suku bunga dengan AS masih lebar, menekan yen.
- Pelemahan yen memperparah inflasi impor Jepang, sementara utang publik Jepang tetap yang tertinggi di negara maju.

Yen Jepang jatuh ke titik terendah dalam hampir empat dekade pada perdagangan Senin (30/6), menyentuh level 162 per dolar Amerika Serikat, dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan AS masih akan naik. Pelemahan ini menekan perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada impor, sekaligus meningkatkan tekanan pada otoritas moneter Negeri Sakura untuk segera turun tangan.
Di pasar New York, dolar AS diperdagangkan pada kisaran 161,89–99 yen pada pukul 10.00 waktu setempat, menembus level psikologis 161,96 yen. Angka ini merupakan yang terendah sejak Desember 1986, menandai kemerosotan nilai tukar yang belum pernah terjadi dalam 39 tahun terakhir.
Pelemahan yen yang berkepanjangan menjadi pukulan berat bagi Jepang yang miskin sumber daya alam. Harga impor energi, bahan pangan, dan bahan baku melonjak, memicu inflasi yang menggerus daya beli masyarakat. Meskipun Jepang telah beberapa kali melakukan intervensi di pasar valuta asing, tekanan terhadap yen terus berlanjut karena kesenjangan suku bunga yang lebar antara Jepang dan AS.
Bank of Japan (BOJ) sebelumnya menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,00% dari 0,75% pada awal Juni—level tertinggi dalam 31 tahun. Namun, kenaikan itu belum cukup untuk mengimbangi ekspektasi kenaikan suku bunga di AS. Gubernur BOJ masih membuka peluang kenaikan lebih lanjut, terutama karena risiko inflasi akibat konflik Timur Tengah dan kenaikan biaya impor.
Di sisi lain, Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh—yang baru menggantikan Jerome Powell—memberi sinyal akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Langkah ini bertolak belakang dengan desakan Presiden Donald Trump yang menginginkan suku bunga lebih rendah untuk mendorong pertumbuhan.
Kondisi fiskal Jepang yang genting turut memperumit situasi. Perdana Menteri Sanae Takaichi mendorong belanja fiskal lebih besar untuk mendorong pertumbuhan, termasuk rencana pembekuan sementara pajak konsumsi untuk makanan dan minuman. Namun, dengan rasio utang terhadap PDB yang jauh melampaui ukuran ekonomi, Jepang memiliki ruang fiskal yang sangat terbatas. Menurut data Dana Moneter Internasional, utang publik Jepang mencapai lebih dari 250% PDB, menjadikannya yang terburuk di antara negara-negara maju.
Bagi Indonesia, pelemahan yen membawa dampak ganda. Di satu sisi, yen yang lemah membuat produk ekspor Indonesia lebih kompetitif di pasar Jepang. Namun, di sisi lain, ketidakstabilan yen dapat mempengaruhi arus investasi Jepang ke Indonesia, yang selama ini menjadi salah satu investor terbesar di sektor manufaktur dan infrastruktur. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan yen karena dapat memicu tekanan pada rupiah jika investor asing beralih ke dolar AS.
Pertanyaan besarnya kini: sejauh mana otoritas Jepang bersedia melakukan intervensi? Dengan cadangan devisa yang masih besar, Jepang memiliki amunisi untuk menahan laju pelemahan yen. Namun, intervensi unilateral tanpa koordinasi global seringkali hanya memberikan efek sementara. Jika The Fed terus menaikkan suku bunga, tekanan terhadap yen kemungkinan akan bertahan dalam jangka panjang.



