Nikkei Menguat Tipis di Tengah Aksi Ambil Untung dan Ketegangan Global
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei ditutup naik 0,15% ke 69.468,11 didorong aksi bargain hunting setelah pekan lalu mencatat rekor tertinggi.
- Tekanan jual pada saham teknologi dan ketidakpastian investasi AI membayangi sentimen pasar Tokyo.
- Investor mencermati perkembangan negosiasi damai Timur Tengah serta potensi intervensi yen oleh otoritas Jepang.

Bursa Tokyo berhasil mengakhiri perdagangan Senin dengan kenaikan tipis, meskipun mayoritas sesi berada di zona merah, saat aksi beli saham-saham yang tertekan memberikan dorongan di tengah kekhawatiran geopolitik dan ketidakpastian prospek investasi kecerdasan buatan.
Indeks Nikkei 225 ditutup menguat 107,23 poin (0,15%) ke level 69.468,11, sementara indeks Topix yang lebih luas naik 18,64 poin (0,47%) menjadi 3.982,00. Pergerakan ini terjadi setelah pekan lalu Nikkei menembus rekor tertinggi sepanjang masa, mendorong investor untuk melakukan penyesuaian portofolio dengan menjual saham-saham teknologi.
Di pasar utama Tokyo, sektor yang mencatat kenaikan terbesar adalah pergudangan dan transportasi pelabuhan, asuransi, serta jasa. Sementara itu, saham semikonduktor seperti Advantest dan Kioxia sempat tertekan mengikuti pelemahan saham sejenis di Wall Street, dipicu laporan bahwa OpenAI mempertimbangkan menunda penawaran umum perdana (IPO) hingga tahun depan. Hal ini menimbulkan keraguan atas profitabilitas investasi besar-besaran di bidang AI.
Dari sisi nilai tukar, dolar AS bergerak stagnan di kisaran 161 yen tinggi di Tokyo, tertekan oleh aksi jual terkait penyelesaian akhir bulan oleh importir serta kewaspadaan terhadap potensi intervensi beli yen oleh otoritas Jepang. Pada pukul 17.00 waktu setempat, dolar berada di 161,82-83 yen, sedikit berubah dibandingkan posisi di New York dan Tokyo pada Jumat lalu. Euro diperdagangkan di 1,1402 dolar AS dan 184,51-55 yen.
Yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun naik 0,035 poin persentase menjadi 2,630%, dipicu kekhawatiran bahwa Bank of Japan (BOJ) mungkin tertinggal dalam mengendalikan inflasi setelah laporan bahwa kebijakan dasar pemerintah mengenai pengelolaan ekonomi dan fiskal akan menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Di tengah ketegangan geopolitik, Amerika Serikat mengumumkan serangan terhadap Iran, sementara Tehran mengklaim telah melakukan serangan di Bahrain dan Kuwait yang menjadi pangkalan militer AS. Namun, investor memilih menunggu putaran negosiasi damai berikutnya yang dijadwalkan pada Selasa di Qatar. "Indeks Nikkei masih berada di level tinggi sekitar 70.000 setelah kenaikan cepat, sehingga investor semakin sadar akan level harga yang tinggi, yang mengakibatkan peningkatan penjualan secara bertahap di berbagai sektor," ujar Maki Sawada, strategis di Departemen Konten Investasi Nomura Securities.
Meskipun demikian, menjelang penutupan, aksi beli terhadap saham-saham yang sebelumnya menjadi penekan utama, seperti Advantest dan Kioxia, menguat dan mendorong indeks ke zona hijau. Pergerakan ini mencerminkan optimisme hati-hati di kalangan pelaku pasar, meskipun risiko eksternal masih membayangi.
Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa Tokyo menjadi sinyal penting mengingat Jepang merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi langsung. Kenaikan yield obligasi Jepang dapat mempengaruhi arus modal asing ke pasar emerging, termasuk Indonesia. Sementara ketidakpastian di sektor AI global berpotensi menekan saham-saham teknologi di bursa domestik yang terkait rantai pasok semikonduktor. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah reli Nikkei dapat berlanjut di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter BOJ, atau justru koreksi lebih dalam akan terjadi.



