Frozen Yogurt vs Es Krim: Mana yang Lebih Sehat? Ini Kata Ahli Gizi
Baca dalam 60 detik
- Frozen yogurt kembali populer di AS dengan 129 gerai baru dalam setahun, namun klaim kesehatannya perlu diuji.
- Ahli gizi menyebut frozen yogurt lebih rendah lemak jenuh dan kalori, tapi sering kali mengandung gula tambahan lebih tinggi.
- Kunci kesehatan bukan pada jenis dessert, melainkan porsi dan topping; yogurt tawar tetap pilihan terbaik untuk manfaat probiotik.

Frozen yogurt kembali menjadi primadona di Amerika Serikat, dengan lebih dari 100 gerai baru bermunculan dalam setahun terakhir. Namun, di balik citra sebagai camilan sehat, para ahli gizi memperingatkan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya akurat.
Menurut data International Frozen Yogurt Association, sekitar 129 toko frozen yogurt baru dibuka di AS dalam 12 bulan terakhir—melonjak 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren ini didorong oleh viralnya video antrean panjang di media sosial, terutama dari kota-kota seperti New York, Miami, dan Los Angeles. Namun, apakah frozen yogurt benar-benar lebih unggul secara nutrisi dibanding es krim?
Scott A. Rankin, profesor ilmu pangan di University of Wisconsin-Madison, menjelaskan bahwa komposisi frozen yogurt sangat bervariasi. Berbeda dengan es krim yang secara hukum federal AS harus mengandung setidaknya 10 persen lemak, frozen yogurt biasanya hanya memiliki 3–4 persen lemak—atau bahkan lebih rendah pada versi non-lemak. Produk ini dibuat dari susu fermentasi seperti yogurt atau cultured milk, ditambah gula dan perasa. Proses fermentasi menghasilkan rasa asam khas berkat bakteri asam laktat.
Meski lebih rendah lemak, frozen yogurt yang dijual di pasaran termasuk makanan ultraproses. Bahan tambahan seperti sirup jagung, dekstrosa, serta pengemulsi dan penstabil (karagenan, guar gum, xanthan gum) kerap ditambahkan untuk menjaga tekstur halus dan mencegah kristal es. Konsumsi makanan ultraproses telah dikaitkan dengan risiko obesitas, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.
Michelle Routhenstein, ahli diet di New York, mengungkapkan bahwa frozen yogurt umumnya lebih rendah kalori dan lemak jenuh dibanding es krim. Namun, Chris Loss dari Cornell University menambahkan, produsen sering menambahkan lebih banyak gula untuk menyeimbangkan rasa asam. Akibatnya, keunggulan kalori yang tipis bisa hilang begitu ditambahkan topping seperti brownies atau kue kering.
Soal probiotik, Maria Marco, profesor ilmu pangan di UC Davis, menegaskan bahwa tidak ada jaminan bakteri hidup dalam frozen yogurt. Regulasi yang longgar membuat konsumen sulit mengetahui jumlah kultur aktif. Label "live and active cultures" dari International Dairy Foods Association bisa menjadi acuan, tetapi tidak semua produk memilikinya. Penelitian terbatas menunjukkan manfaat yogurt fermentasi untuk kesehatan pencernaan, namun belum tentu berlaku untuk versi beku.
Bagi konsumen Indonesia, tren ini relevan mengingat maraknya gerai frozen yogurt di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Masyarakat perlu jeli membaca label gizi, terutama kandungan gula dan lemak. Ahli diet Julie Stefanski menekankan bahwa porsi dan topping lebih menentukan dampak kesehatan daripada pilihan antara frozen yogurt dan es krim. “Jika Anda menginginkan es krim, makanlah es krim. Memaksakan diri makan frozen yogurt justru bisa membuat Anda makan lebih banyak,” ujar Routhenstein.
Pada akhirnya, tidak ada dessert yang bisa disebut "makanan kesehatan". Keduanya boleh dinikmati dalam jumlah wajar, asal tidak dibebani topping berlebihan. Pertanyaan yang tersisa: akankah tren frozen yogurt di Indonesia diikuti dengan kesadaran gizi yang lebih baik, atau sekadar ikut-ikutan viral?



