Perempuan Desa Lonca Buktikan Kedaulatan Pangan Lewat Pampa, Warisan Leluhur yang Kembali Hidup
Baca dalam 60 detik
- Komunitas Tobine Mohintuhu di Sigi, Sulawesi Tengah, menghidupkan kembali sistem kebun permanen pampa untuk mencapai kemandirian pangan pasca gempa 2018.
- Pampa, yang dikelola perempuan, menyediakan sayur, jagung, dan kakao untuk konsumsi keluarga dan tambahan ekonomi, mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.
- Praktik ini menginspirasi desa lain di Indonesia untuk mengadopsi model pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal.

Di lereng Kulawi, Sulawesi Tengah, sekelompok perempuan berjalan di antara pohon kakao dan durian menuju ladang jagung yang menjulang di ketinggian. Mereka adalah anggota Komunitas Tobine Mohintuhu—dalam bahasa Uma berarti "perempuan bersatu"—yang mengelola lahan pertanian bernama pampa, sebuah sistem kebun permanen warisan leluhur yang kini menjadi tulang punggung kemandirian pangan desa.
Pampa bukan sekadar kebun. Menurut Elna Hadajuga, pengurus komunitas, lahan ini ditanami jagung, padi, sayur mayur, durian, kopi, hingga kakao. Hasilnya untuk konsumsi keluarga, sementara kelebihannya dijual ke tetangga. “Kalau lahan baru dibuka, jagung dulu,” katanya. Sistem ini menggantikan praktik ladang berpindah (bonde) yang mulai ditinggalkan karena keterbatasan lahan dan kebutuhan pangan yang meningkat.
Gempa bumi Palu 2018 menjadi titik balik. Bencana itu menyadarkan warga Desa Lonca betapa rentannya ketergantungan pada pasokan dari luar. Yarni Ijo, Kepala Desa Lonca, mengaku sejak itu ia gencar mensosialisasikan kedaulatan pangan ke seluruh warga, termasuk pemuda Karang Taruna. “Jangan sampai kita bergantung pada bantuan,” tegasnya. Komunitas Tobine Mohintuhu dibentuk tiga tahun lalu sebagai wadah perempuan petani sekaligus menjalankan simpan-pinjam.
Syukur Umar, Guru Besar Ekonomi Kehutanan Universitas Tadulako, menjelaskan bahwa pampa adalah istilah lokal untuk kebun permanen yang dikelola perempuan. Berbeda dengan bonde yang berpindah-pindah, pampa memungkinkan diversifikasi tanaman dan menjaga kesuburan tanah. Namun, kakao yang menjadi komoditas utama tidak diolah di Sigi—semua hasil panen diekspor tanpa nilai tambah. Ini menjadi ironi: petani tidak menikmati hasil olahan sendiri.
Bagi Indonesia, praktik di Lonca menawarkan model alternatif ketahanan pangan berbasis komunitas. Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, sistem pertanian berkelanjutan seperti pampa bisa direplikasi di daerah lain. Namun, tantangannya adalah akses pasar dan teknologi pengolahan. Tanpa industri lokal, petani tetap menjadi pemasok bahan mentah dengan harga fluktuatif. Pertanyaannya, mampukah model ini bertahan tanpa dukungan kebijakan yang memihak petani kecil?



