Acar Hu: Warisan Peranakan yang Mengubah Ikan Goreng Jadi Hidangan Awet Nan Segar
Baca dalam 60 detik
- Acar hu, hidangan ikan acar khas Peranakan, lahir dari praktik pengawetan di era perdagangan rempah Selat Malaka.
- Teknik menggoreng ikan sebelum direndam cuka berbumbu membuat teksturnya tetap renyah dan segar, bukan lembek.
- Hidangan ini bisa bertahan seminggu di suhu ruang dan lebih lama di kulkas, cocok jadi stok lauk praktis.

Ikan yang digoreng garing lalu direndam dalam larutan cuka berbumbu mungkin terdengar tak lazim, namun bagi masyarakat Peranakan, teknik inilah yang melahirkan acar hu—hidangan pengawet yang justru menyegarkan dan renyah di lidah. Berbeda dengan asinan pada umumnya yang kerap meninggalkan aroma cuka menyengat, acar hu menawarkan sensasi asam yang ringan, segar, dan membuat ketagihan.
Asal-usul acar hu tak lepas dari sejarah pelabuhan niaga di Penang, Melaka, dan Singapura pada abad ke-19. Cuka, gula, dan aneka rempah merupakan komoditas berharga yang diperdagangkan di jalur maritim, sementara ikan melimpah di perairan sekitar. Peranakan memadukan teknik pengawetan Tionghoa dengan bumbu khas Melayu, menghasilkan hidangan yang mencerminkan semangat kosmopolitan Selat Malaka. Apa yang awalnya merupakan cara menyimpan hasil tangkapan agar tak cepat busuk, kini bertransformasi menjadi sajian warisan yang dihargai lintas generasi.
Keunikan acar hu terletak pada proses pengolahannya. Ikan—biasanya tenggiri, kembung, atau belanak—digoreng dalam minyak yang telah diberi aroma kunyit, bawang putih, dan jahe. Setelah dingin, ikan dimasukkan ke dalam stoples kaca bersama irisan cabai merah dan hijau, lalu direndam larutan cuka, gula, dan garam. Hasilnya, ikan tetap renyah di luar dan lembut di dalam, bahkan tulangnya pun ikut lunak dan bisa dimakan. Menurut pengalaman penulis, ikan belanak menghasilkan tekstur paling renyah, sementara tenggiri memberikan daging yang mudah terurai.
Bagi masyarakat Indonesia, acar hu bisa menjadi alternatif lauk praktis yang tahan lama. Dengan bahan yang mudah ditemukan—ikan segar, cuka, bawang putih, jahe, kunyit, dan cabai—hidangan ini bisa disiapkan dalam waktu singkat. Acar hu dapat bertahan sekitar satu minggu pada suhu ruang dan lebih lama lagi jika disimpan di lemari pendingin. Cocok untuk stok makanan di rumah atau bekal saat bepergian.
Resep acar hu sebenarnya sederhana. Ikan dibersihkan, dilumuri garam, lalu digoreng dalam minyak yang telah diberi irisan kunyit hingga kuning. Bawang putih dan jahe digoreng terpisah hingga kering. Setelah ikan dingin, larutan cuka, gula, dan garam dituang ke dalam stoples berisi ikan dan cabai. Taburan bawang putih goreng, jahe goreng, dan wijen sangrai menjadi sentuhan akhir yang memperkaya rasa. Proses ini menunjukkan bagaimana bahan sederhana bisa diolah menjadi hidangan yang istimewa.
Ke depannya, popularitas acar hu berpotensi meluas seiring meningkatnya minat pada kuliner tradisional dan pengawetan alami. Di era di mana makanan instan mendominasi, hidangan seperti acar hu mengingatkan kita bahwa teknik kuno justru mampu menghasilkan cita rasa yang tak lekang oleh waktu. Akankah generasi muda Indonesia mulai melirik kembali warisan kuliner seperti ini?



