Jenny Simpson Selamat dari Henti Jantung Saat Berlari, Keluar dari Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Pelari Olimpiade Jenny Simpson mengalami henti jantung mendadak saat menjadi pacemaker di acara lari di Raleigh, Carolina Utara.
- Berkat CPR dan defibrillator eksternal otomatis (AED) dari petugas di lokasi, nyawanya tertolong dan kini pulih di rumah.
- Kejadian ini menyoroti pentingnya kesiapan alat penyelamat di event olahraga, relevan untuk Indonesia yang giat menggelar lari massal.

Mantan juara dunia 1500 meter Jenny Simpson, 39 tahun, dinyatakan boleh meninggalkan rumah sakit setelah sembilan hari menjalani perawatan akibat henti jantung mendadak yang dialaminya saat berlari di sebuah acara di Raleigh, Carolina Utara, pekan lalu. Peristiwa yang menimpa peraih medali perunggu Olimpiade Rio 2016 itu menjadi pengingat akan pentingnya respons cepat dalam kegawatdaruratan jantung di arena olahraga.
Simpson ambruk saat menjadi pacemaker bagi kelompok pelari mil dalam acara pop-up Sir Walter Miler. Ia segera mendapatkan pertolongan pertama berupa resusitasi jantung paru (CPR) dan penggunaan alat defibrillator eksternal otomatis (AED) dari petugas di lokasi. Langkah cepat itu dinilai krusial menyelamatkan nyawanya sebelum dilarikan ke UNC Rex Hospital dan kemudian dipindahkan ke Duke University Hospital untuk perawatan intensif.
Menurut pernyataan resmi dari Fleet Feet, perusahaan perlengkapan lari yang mempekerjakannya sebagai chief running officer pertama, Simpson akan menjalani pemulihan di Carolina Utara bersama suaminya. Ia pensiun dari dunia lari kompetitif pada akhir musim 2024 dan baru bergabung dengan Fleet Feet awal tahun ini. Keluarga Simpson menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para petugas medis dan semua pihak yang telah merawatnya selama sembilan hari terakhir.
Kisah Simpson memiliki relevansi kuat bagi Indonesia. Maraknya event lari seperti marathon dan fun run di berbagai kota meningkatkan risiko kejadian serupa. Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menunjukkan bahwa kejadian henti jantung di luar rumah sakit masih tinggi, dan ketersediaan AED di tempat umum masih terbatas. Kejadian ini menegaskan perlunya pelatihan CPR bagi penyelenggara acara dan kewajiban menyediakan AED di setiap event olahraga massal.
Menurut dr. Yoga Yuniadi, spesialis jantung dari RS Jantung Harapan Kita, respons cepat dalam enam menit pertama sangat menentukan keselamatan korban henti jantung. "Kehadiran AED dan orang terlatih di lokasi bisa meningkatkan angka harapan hidup hingga 70 persen," ujarnya. Sayangnya, di Indonesia, kesadaran akan hal ini masih rendah. Beberapa event besar seperti Jakarta Marathon sudah mulai menyediakan AED, tetapi belum menjadi standar wajib.
Simpson kini fokus pada pemulihan. Ia mengaku sangat berterima kasih atas dukungan dari sesama atlet dan penggemar di seluruh dunia. Ke depannya, apakah pengalaman ini akan mendorong perubahan kebijakan di industri olahraga global, termasuk Indonesia, untuk mewajibkan perlengkapan darurat jantung di setiap event lari? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: nyawa Simpson terselamatkan karena kesiapan alat dan orang di sekitarnya.



