Gelombang Panas Eropa 2024: Ilmuwan Pastikan Perubahan Iklim Biang Kerok Utama
Baca dalam 60 detik
- Studi World Weather Attribution menyimpulkan gelombang panas Eropa Juni 2024 mustahil terjadi tanpa perubahan iklim buatan manusia.
- Suhu siang hari saat gelombang panas serupa pada 1976 lebih dingin 3,5°C, menunjukkan peningkatan frekuensi dan intensitas ekstrem.
- Hampir separuh dari 850 kota di Eropa memecahkan rekor tekanan panas, mengancam kesehatan publik dan mendesak penghentian bahan bakar fosil.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Juni 2024 tidak akan mungkin terjadi tanpa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia, demikian kesimpulan para ilmuwan dalam studi terbaru World Weather Attribution. Analisis yang dirilis Jumat (25/6) itu menegaskan bahwa suhu setinggi sekarang mustahil tercatat pada era pra-industri atau bahkan lima dekade lalu.
Tim peneliti dari Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris membandingkan kondisi cuaca saat ini dengan data historis tahun 1976 dan 2003. Hasilnya, gelombang panas serupa pada Juni 1976 akan lebih dingin 3,5°C pada siang hari. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Juni 2003—ketika puluhan ribu orang tewas akibat panas—suhu saat ini lebih tinggi sekitar 2°C. "Peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa perubahan iklim," ujar Theodore Keeping dari Imperial College London, penulis utama studi tersebut.
Pemanasan global yang mencapai 1,4°C di atas level pra-industri, terutama akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas, telah mengubah probabilitas kejadian ekstrem secara dramatis. Menurut Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution, pola cuaca yang mendorong gelombang panas ini sebenarnya tidak luar biasa. "Yang luar biasa adalah suhunya—atau setidaknya dulu seperti itu, sebelum perubahan iklim akibat manusia," katanya. Studi tersebut juga menegaskan bahwa fenomena El Niño tidak berperan dalam memicu panas ekstrem kali ini.
Dampak langsung terhadap kesehatan manusia menjadi perhatian serius. Otto menyoroti ancaman "tekanan panas" (heat stress), yaitu kondisi ketika sistem pendingin alami tubuh kewalahan. Gejalanya mulai dari pusing dan sakit kepala hingga gagal organ dan kematian. Dari hampir 850 kota yang dianalisis, sekitar 45 persen telah atau diperkirakan akan memecahkan rekor tekanan panas tertinggi sepanjang Juni. Hal ini membuat gelombang panas kali ini "sangat tidak menyenangkan dan berbahaya," tambah Otto.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu global, melainkan ancaman nyata yang juga dirasakan di kawasan tropis. Meskipun Eropa saat ini menjadi episentrum, pola cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan, dan hujan deras semakin sering terjadi di Indonesia. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tren kenaikan suhu rata-rata di Indonesia sebesar 0,3°C per dekade. Tanpa langkah mitigasi yang serius, risiko tekanan panas dan bencana hidrometeorologi akan meningkat.
World Weather Attribution mendesak penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara cepat sebagai langkah krusial untuk menghindari suhu yang lebih tinggi dan konsekuensinya di masa depan. Pertanyaannya, apakah negara-negara termasuk Indonesia mampu mempercepat transisi energi sebelum titik kritis terlampaui?



