Gelombang Panas Eropa Tewaskan Ratusan Orang, Suhu Tembus Rekor 41,9 Derajat Celsius
Baca dalam 60 detik
- Prancis mencatat lonjakan kematian hingga 1.000 kasus lebih dalam tiga hari puncak gelombang panas, dengan 85% korban berusia di atas 65 tahun.
- WHO menyebut Eropa sebagai benua dengan pemanasan tercepat, dua kali lipat rata-rata global, dan mendesak negara-negara menyusun rencana aksi menghadapi cuaca ekstrem.
- Studi World Weather Attribution mengonfirmasi gelombang panas ini mustahil terjadi tanpa perubahan iklim, dan kini 200 kali lebih mungkin dibanding 20 tahun lalu.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pekan lalu memicu lonjakan angka kematian di Prancis, memecahkan rekor suhu di sejumlah negara, serta memicu kebakaran hutan dan gangguan infrastruktur massal. Badan kesehatan masyarakat Prancis melaporkan setidaknya 1.000 kematian tambahan terjadi hanya dalam tiga hari saat suhu mencapai puncaknya, dengan sebagian besar korban adalah lansia.
Data Public Health France menunjukkan angka kematian harian melonjak dari kisaran 900–1.000 pada April–Mei menjadi lebih dari 1.200 pada Rabu, lalu menembus 1.400 pada Kamis dan Jumat. Lonjakan terparah terjadi di wilayah yang mendapat peringatan merah cuaca ekstrem, yang mencakup tiga perempat wilayah Prancis. Sekitar 85% korban berusia 65 tahun ke atas, dan peningkatan signifikan juga tercatat di rumah-rumah pribadi, terutama di kawasan Paris.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di Bumi, dua kali lipat rata-rata global. Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut 150 juta orang Eropa hidup di bawah suhu ekstrem, ratusan orang tewas, sekolah tutup, dan jaringan listrik kewalahan. Tedros menekankan bahwa gelombang panas yang dulu dianggap "sekali dalam satu generasi" kini hampir terjadi setiap tahun, dan menyerukan negara-negara Eropa segera menyusun rencana aksi yang fokus pada kesiapsiagaan, pencegahan, dan penguatan sistem kesehatan.
Di Jerman, rekor suhu nasional pecah untuk hari ketiga berturut-turut dengan 41,7°C di Neißemünde dekat perbatasan Polandia. Republik Ceko mencatat rekor baru 41,9°C, sementara Polandia juga mengalami hari terpanas sepanjang sejarah dengan 40,5°C. Gelombang panas memicu kebakaran hutan di kawasan yang masih terkontaminasi amunisi Perang Dunia II, mempersulit upaya pemadaman. Di Gohrischheide dan Traisen, tim pemadam harus bekerja ekstra hati-hati karena risiko ledakan; 650 warga Traisen dievakuasi. Di Berlin, kepolisian menggunakan meriam air—biasa dipakai membubarkan demonstran—untuk menyemprotkan air ke kerumunan di depan Gerbang Brandenburg.
Infrastruktur transportasi juga terdampak parah. Deutsche Bahn mengimbau penumpang menunda perjalanan kereta yang tidak perlu. Lebih dari 600 penumpang dievakuasi dari kereta rute Hamburg–Praha setelah pohon tumbang menimpa kabel listrik, menyebabkan AC mati dan pintu terkunci. Di Leipzig, trem berhenti beroperasi karena sambungan rel meleleh akibat suhu tinggi. Sementara itu, Denmark mencatat 1.156 sambaran petir dalam semalam, dan di Swedia tiga orang terluka akibat sambaran petir di taman hiburan.
Studi cepat dari World Weather Attribution menegaskan bahwa gelombang panas ekstrem ini mustahil terjadi tanpa perubahan iklim. Para ilmuwan menyimpulkan fenomena yang sama hampir tidak mungkin terjadi lima dekade lalu, dan kini kemungkinannya 200 kali lebih besar dibanding 20 tahun silam. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim tidak mengenal batas geografis. Kenaikan suhu global berpotensi memperparah frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk gelombang panas dan kekeringan yang mengancam sektor pertanian dan kesehatan masyarakat. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini dan adaptasi iklim, terutama di daerah perkotaan yang rentan terhadap efek pulau panas.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, mempercepat transisi energi dan kebijakan mitigasi sebelum gelombang panas semacam ini menjadi "normal baru" yang menelan korban lebih banyak?



