Gelombang Panas Eropa Tewaskan 1.000 Orang, Ilmuwan Sebut Akibat Perubahan Iklim
Baca dalam 60 detik
- Suhu di sejumlah negara Eropa menembus 40 derajat Celsius, menyebabkan 1.000 kematian lebih di Prancis dan mengganggu infrastruktur energi.
- Para ilmuwan menyatakan gelombang panas ini mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia, dengan suhu malam hari 100 kali lebih mungkin terjadi dibanding dua dekade lalu.
- Dampak meluas ke sektor pertanian dan pembangkit listrik, termasuk penurunan output PLTN di Hungaria dan intrusi air laut di Italia.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak 20 Juni telah menyebabkan sedikitnya 1.000 kematian di Prancis, dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius di beberapa wilayah, dan para ilmuwan memperingatkan bahwa peristiwa ini hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim yang dipicu manusia.
Badan kesehatan masyarakat Prancis melaporkan bahwa sebagian besar korban adalah lansia, dan angka tersebut diperkirakan akan bertambah seiring pengumpulan data dari panti jompo dan rumah pribadi. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebutkan bahwa 150 juta orang saat ini hidup di bawah suhu ekstrem, ratusan meninggal, sekolah tutup, dan jaringan listrik kewalahan. Ia menekankan bahwa fenomena 'sekali dalam seabad' kini terjadi hampir setiap tahun akibat pemanasan global, dan infrastruktur Eropa tidak siap menghadapi kondisi ini.
Gelombang panas ini memecahkan rekor suhu di Austria, Republik Ceko, Jerman, dan Polandia. Badai yang kemudian melanda sebagian Prancis membawa udara lebih sejuk namun juga menyebabkan pemadaman listrik bagi 36.000 rumah tangga pada Minggu sore, menurut penyedia listrik Enedis. Di Jerman, layanan kereta dikurangi di jalur utama North Rhine-Westphalia dan trem di Leipzig dihentikan sementara. Masyarakat memilih bertahan di rumah hingga matahari terbenam.
Dampak juga terasa pada sektor energi dan pertanian. Pembangkit listrik tenaga nuklir Paks di Hongaria kembali mengurangi output pada Minggu karena suhu tinggi Sungai Danube yang digunakan sebagai pendingin. Di Italia, aliran Sungai Po menyusut drastis, memungkinkan air laut masuk hingga 18 kilometer ke daratan, mengancam pertanian dan lahan basah yang dilindungi. Puluhan orang dilaporkan tenggelam saat mencoba mendinginkan diri di perairan.
Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist memperingatkan bahwa dampak gelombang panas bisa berlangsung hingga 10 hari setelah cuaca mereda. "Episode ini belum berakhir," katanya kepada stasiun televisi BFM. Sementara itu, otoritas Ceko mengimbau warga menghindari aktivitas fisik dan mengeluarkan peringatan smog akibat tingginya ozon permukaan tanah.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan urgensi adaptasi iklim. Meskipun Indonesia tidak mengalami gelombang panas serupa, perubahan iklim global meningkatkan risiko cuaca ekstrem di kawasan tropis, termasuk potensi gelombang panas dan kekeringan yang dapat mengancam ketahanan pangan dan energi nasional. Pengalaman Eropa menunjukkan pentingnya investasi infrastruktur tahan panas dan sistem peringatan dini yang efektif.
Meteorolog memperkirakan badai petir akan melanda sebagian Prancis, Jerman, dan Ceko dalam beberapa hari ke depan, dengan suhu lebih sejuk di Eropa Barat seiring pergerakan gelombang panas ke Eropa Tengah dan Balkan. Pertanyaannya, apakah negara-negara Eropa mampu memperkuat ketahanan iklim mereka sebelum fenomena 'sekali dalam seabad' ini menjadi rutinitas tahunan?



