Pertandingan Paraguay vs Australia: Imbang Tanpa Gol, Drama Piala Dunia Meredup
Baca dalam 60 detik
- Laga penentu Grup D antara Paraguay dan Australia berakhir tanpa gol, mengecewakan penonton yang mengharapkan duel sengit.
- Hasil imbang ini menguntungkan kedua tim: Australia lolos ke fase gugur sebagai runner-up, sementara Paraguay masih berpeluang sebagai peringkat tiga terbaik.
- Pertandingan minim aksi ofensif dan banyak pelanggaran, kontras dengan turnamen yang sebelumnya kaya gol.

Pertandingan penentu Grup D Piala Dunia 2026 antara Paraguay dan Australia di Stadion San Francisco Bay Area, Kamis (25/6), berakhir tanpa gol โ sebuah antiklimaks di tengah turnamen yang sebelumnya diwarnai hujan gol dan drama. Laga yang diharapkan menjadi duel hidup-mati justru menyajikan permainan hati-hati, penuh pelanggaran, dan minim peluang berbahaya.
Sejak awal, kedua tim tampak enggan mengambil risiko. Australia, yang membutuhkan hasil imbang untuk memastikan posisi kedua, lebih memilih bertahan rapat. Paraguay, di sisi lain, juga tidak menunjukkan urgensi meski status mereka sebagai peringkat tiga belum aman. Statistik mencatat baru pada menit ke-53 Paraguay mendapatkan sepak pojok pertama mereka โ dan itu baru yang kedua sepanjang turnamen.
Dari 19 percobaan tembakan, mayoritas berasal dari Australia, namun hanya sedikit yang mengarah tepat ke gawang. Penonton yang memenuhi stadion pun beralih menghibur diri dengan gelombang Meksiko, tanda kebosanan menyaksikan pertandingan yang alot dan sering terhenti oleh peluit wasit.
Pelatih Australia, Tony Popovic, membantah tuduhan bahwa timnya puas bermain imbang. โKami tidak pernah merasa bermain untuk hasil seri. Kami mencoba menang, dan pada akhirnya hasil imbang cukup bagi kedua negara,โ ujarnya. Sementara itu, pelatih Paraguay Gustavo Alfaro mengakui kesulitan menembus pertahanan Australia. โKami bertahan dengan baik, tetapi mereka sulit ditembus. Sekarang kami harus menunggu, ada ketidakpastian apakah kami lolos atau tidak,โ katanya.
Bagi publik sepak bola Indonesia, laga ini menjadi pengingat bahwa tidak semua pertandingan Piala Dunia berjalan dramatis. Namun, hasil imbang ini juga membuka pelajaran tentang strategi pragmatis di turnamen besar: kadang satu poin lebih berharga daripada risiko menyerang habis-habisan. Dengan format 48 tim yang memberi jatah delapan peringkat tiga terbaik, pendekatan konservatif seperti yang dilakukan Paraguay dan Australia bisa menjadi kunci kelolosan.
Ke depan, Australia akan menghadapi juara grup lain di babak 32 besar, sementara Paraguay harus berharap hasil pertandingan grup lain berpihak. Pertanyaan yang muncul: apakah format baru Piala Dunia ini justru mendorong lebih banyak pertandingan โamanโ seperti ini? Ataukah ini hanya kebetulan belaka?



