Cunha Jadi Kunci Revolusi Taktik Brasil di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Matheus Cunha, dengan peran hybrid sebagai false nine, menjadi pusat serangan Brasil yang telah mencetak tiga gol di fase grup.
- Cedera Raphinha memaksa Ancelotti beralih ke formasi 4-3-3 yang memberi ruang lebih bagi Cunha dan sayap Vinicius Jr serta Rayan.
- Brasil kini lebih fleksibel secara taktik, tidak bergantung pada penguasaan bola, dan siap menghadapi Jepang di babak 32 besar.

Matheus Cunha, penyerang serba bisa yang kerap turun ke lini tengah, menjadi poros permainan Brasil yang perlahan menemukan bentuk terbaiknya menjelang babak gugur Piala Dunia 2026. Dalam tiga laga fase grup, Selecao tidak hanya mengemas tujuh gol, tetapi juga menunjukkan adaptasi taktik yang jarang terlihat dari tim samba โ termasuk keberanian melepas penguasaan bola demi menjebak lawan.
Menurut mantan gelandang Brasil Lucas Leiva yang kini menjadi analis, Cunha memberikan dimensi baru yang belum pernah dimiliki Brasil sebelumnya. โDia bukan penyerang klasik seperti Ronaldo atau Adriano. Ia lebih seperti sembilan-setengah โ bisa menjadi ujung tombak sekaligus pengatur serangan,โ ujar Leiva kepada BBC Sport. Peran ini mengingatkan pada Roberto Firmino di Liverpool, di mana Cunha sering turun ke area tengah untuk menarik bek lawan, membuka ruang bagi Vinicius Jr dan Rayan.
Data sentuhan bola Cunha melawan Skotlandia menunjukkan 39 persen sentuhannya terjadi di area sendiri, pola yang serupa saat melawan Haiti. Ini menandakan betapa aktifnya ia dalam membangun serangan dari belakang. Meski bukan tipikal penyerang yang diharapkan publik Brasil, tiga golnya sejauh ini membungkam kritik.
Perubahan taktik juga terjadi di lini tengah. Pada laga pertama melawan Maroko, Casemiro kewalahan sendirian di depan lini belakang. Namun, sejak beralih ke 4-3-3, Bruno Guimaraes dan Lucas Paqueta membantu menjaga keseimbangan. โKami tidak perlu 70 persen penguasaan bola. Terkadang memberikan bola ke lawan justru menjadi masalah bagi mereka,โ kata Leiva, mencontohkan gol pertama Brasil ke gawang Skotlandia yang lahir dari skema jebakan offside dan pressing tinggi.
Di sisi pertahanan, Brasil tampil lebih solid dengan bek sayap yang lebih konservatif โ berbeda dari tradisi Roberto Carlos atau Cafu. Douglas Santos, Roger Ibanez, dan Danilo lebih memilih bertahan, memungkinkan Vinicius Jr tetap segar saat menyerang. โIni Piala Dunia pertama di mana full-back kami tidak terbang ke depan. Tapi justru itu memberi keseimbangan,โ tambah Leiva.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, transformasi Brasil ini menarik karena menunjukkan bahwa fleksibilitas taktik bisa mengalahkan dogma. Timnas Indonesia yang kerap menghadapi lawan dengan fisik kuat bisa belajar dari pendekatan Ancelotti: tidak selalu harus menguasai bola, asalkan pressing dan transisi berjalan efektif. Apalagi, Brasil akan menghadapi Jepang yang dikenal disiplin dan cepat โ ujian sesungguhnya bagi skema anyar ini.
Leiva optimistis, namun mengingatkan bahwa lawan kini sudah mulai mempelajari pergerakan Cunha. โDia pemain cerdas, jadi tidak mudah dihentikan. Tapi yang terpenting, Ancelotti punya opsi โ Igor Thiago misalnya, bisa menjadi alternatif fisik jika diperlukan,โ pungkasnya. Pertanyaan besarnya: mampukah Brasil mempertahankan konsistensi ini hingga partai puncak?



