AS Siapkan Diri untuk Tuan Rumah Piala Dunia 2038: Infrastruktur Siap, Biaya Lebih Rendah
Baca dalam 60 detik
- Andrew Giuliani, direktur eksekutif gugus tugas Piala Dunia Gedung Putih, menyatakan Amerika Serikat berpotensi mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2038.
- Dengan infrastruktur stadion yang sudah ada, AS hanya mengeluarkan biaya beberapa miliar dolar, jauh lebih rendah dibanding negara lain yang bisa mencapai puluhan miliar.
- Rencana ini muncul di tengah kontroversi kebijakan imigrasi AS yang memicu peringatan perjalanan dari lebih 120 organisasi hak asasi manusia.

Amerika Serikat secara terbuka mempertimbangkan untuk kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia pria pada 2038, hanya satu dekade setelah menjadi tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko pada 2026. Andrew Giuliani, direktur eksekutif gugus tugas Piala Dunia Gedung Putih, mengungkapkan bahwa negaranya memiliki infrastruktur yang sudah siap dan biaya penyelenggaraan yang relatif rendah dibanding negara lain.
Giuliani menyebut bahwa FIFA tengah mempertimbangkan perluasan turnamen dari 48 menjadi 64 tim, dan AS dinilai mampu menggelar ajang sebesar itu. "Ketika Anda berpikir Piala Dunia ini mungkin akan berkembang menjadi 64 tim, saya pikir Amerika Serikat bisa menanganinya," ujarnya. Namun ia menekankan bahwa prioritas saat ini adalah menyelesaikan Piala Dunia 2026 pada 19 Juli sebelum benar-benar melobi untuk edisi 2038.
Piala Dunia 2030 akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko, dengan tiga pertandingan pembuka di Uruguay, Argentina, dan Paraguay untuk memperingati 100 tahun turnamen. Sementara itu, Arab Saudi telah ditunjuk sebagai tuan rumah 2034. Dengan demikian, 2038 menjadi edisi pertama yang proses bidding-nya masih terbuka penuh.
Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah isu kontroversial membayangi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di AS. Pada April lalu, lebih dari 120 organisasi hak asasi manusia mengeluarkan 'travel advisory' yang memperingatkan penggemar, pemain, dan jurnalis untuk berhati-hati jika bepergian ke AS. Mereka menyoroti kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang dinilai keras dan abusive. Selain itu, biaya perjalanan yang melonjak selama Piala Dunia juga menuai kritik.
Kasus penolakan visa terhadap staf belakang tim Iran menjadi contoh nyata. Akibat perang antara AS dan Iran di Timur Tengah, para staf Iran tidak mendapatkan izin masuk, sehingga mereka memindahkan markas dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, dan menghadapi pembatasan perjalanan ketat selama turnamen.
Giuliani mengaku telah berbicara dengan Presiden Donald Trump mengenai kemampuan AS menjadi tuan rumah lagi. "Tidak ada negara yang lebih siap menjadi tuan rumah Piala Dunia selain Amerika Serikat," katanya. Ia menambahkan bahwa infrastruktur stadion yang sudah ada membuat biaya penyelenggaraan jauh lebih murah. "Bagi negara tuan rumah lain, biayanya bisa puluhan miliar dolar. Bagi kami, hanya beberapa miliar."
Bagi Indonesia, minat AS terhadap Piala Dunia 2038 membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan infrastruktur yang sudah matang, AS menjadi pesaing berat bagi negara-negara Asia Tenggara yang mungkin berniat melamar, termasuk Indonesia jika serius mengembangkan sepak bola. Namun, isu hak asasi manusia dan kebijakan imigrasi AS bisa menjadi pertimbangan bagi FIFA dalam memilih tuan rumah. Pertanyaan besarnya: akankah FIFA mengutamakan efisiensi biaya dan infrastruktur siap pakai, atau justru mempertimbangkan aspek sosial-politik yang lebih luas?



