Kegagalan Piala Dunia 2026: Presiden Korea Selatan Kecam 'Orang Tak Kompeten' di Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026 setelah kalah 1-0 dari Afrika Selatan, memicu kemarahan publik dan kritik langsung dari Presiden Lee Jae Myung.
- Pelatih Hong Myung-bo mengundurkan diri, sementara Presiden KFA Chung Mong-gyu berjanji mundur, namun tuntutan reformasi total masih bergema di kalangan penggemar dan legenda sepak bola.
- Masa depan kapten Son Heung-min di timnas diragukan, dan kegagalan ini dinilai sebagai pengulangan siklus buruk yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Kegagalan Korea Selatan melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026 berbuntut panjang. Presiden Lee Jae Myung secara terbuka menuding adanya "orang-orang tak kompeten" di tubuh federasi sepak bola dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Kekalahan 1-0 dari Afrika Selatan yang berada di peringkat lebih rendah menjadi pukulan telak bagi negara yang pernah menjadi semifinalis pada 2002 itu.
Pelatih Hong Myung-bo langsung mengambil langkah mundur pada Minggu (28/6) setelah timnya gagal mengamankan tiket ke 32 besar. Namun, pengunduran diri itu tak meredam gelombang kritik. Presiden KFA Chung Mong-gyu, yang telah memimpin selama 13 tahun, sebelumnya sudah menyatakan akan lengser setelah turnamen, mengaku "kurang berbudi luhur" dalam menjalankan organisasi. Ia juga mendapat sorotan tajam karena upayanya memberikan amnesti kepada pemain yang dihukum seumur hidup akibat pengaturan skor.
Kekecewaan publik mencapai titik didih. Legenda sepak bola Korea, Park Ji-sung, menyebut hasil ini sudah bisa diprediksi sejak lama. "Kita harus bertanya pada diri sendiri, kenapa sampai begini?" ujar mantan gelandang Manchester United itu. Ia menyesalkan bahwa pelajaran dari masa lalu seolah terlupakan. Lee Chun-soo, anggota tim 2002, bahkan mengaku "merasa menyedihkan dan frustrasi" saat mendukung Uzbekistan melawan Kongo demi harapan tipis Korea lolos.
Keputusan Hong menurunkan Son saat laga krusial melawan Afrika Selatan menjadi sorotan. Dengan hanya butuh satu poin, Hong justru mencadangkan bintang Tottenham Hotspur itu. Langkah tersebut dinilai sebagai blunder besar. Hong sendiri mengaku bingung dengan apa yang salah terjadi. "Saya tidak bisa menjelaskan apa yang membuat kami tampil buruk," katanya seusai pertandingan.
Kegagalan ini membuka kembali luka lama. Pada Piala Dunia 2014, saat Hong juga menjadi pelatih, Korea tersingkir di fase grup dan sekembalinya ke tanah air, para pemain dilempari permen oleh suporter yang marah. Kini, KFA bahkan tidak merencanakan acara penyambutan untuk tim yang dijadwalkan tiba pada Selasa pagi.
Bagi Indonesia, kegagalan Korea Selatan menjadi pengingat betapa pentingnya tata kelola yang bersih dan transparan dalam sepak bola. Federasi sepak bola Indonesia (PSSI) tengah berbenah di bawah kepemimpinan Erick Thohir, dan kisah KFA menunjukkan bahwa krisis kepercayaan bisa meledak jika tidak ada akuntabilitas. Publik Indonesia pun mulai menuntut standar tinggi serupa, terutama setelah Timnas Garuda menunjukkan peningkatan performa.
Pertanyaan besar kini mengemuka: akankah sepak bola Korea Selatan benar-benar berubah? Atau siklus kegagalan dan pergantian pelatih akan terus berulang? Park Ji-sung mengingatkan, "Kita harus bermimpi dan membentuk masa depan yang lebih baik, melangkah selangkah demi selangkah agar kesalahan ini tidak terulang." Namun, tanpa reformasi struktural yang mendalam, kata-kata itu mungkin hanya akan menjadi pengantar untuk episode kekecewaan berikutnya.



