Harga Minyak Ambles Hampir 7% dalam Sepekan, Kekhawatiran Pasokan Mereda
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI turun signifikan dalam sepekan, masing-masing merosot 7,6% dan 7%, dipicu meredanya ketegangan di Timur Tengah.
- Peningkatan volume pengiriman tanker melalui Selat Hormuz usai gencatan senjata mengurangi premi risiko geopolitik, meski jumlah kapal masih di bawah normal.
- Insiden keamanan di Oman dan gempa di Venezuela menjadi risiko baru yang dapat mengerek harga kembali, namun fokus pasar tetap pada pemulihan pasokan.

Harga minyak dunia kembali tertekan pada akhir pekan ini, dengan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencatat koreksi hampir 7% dalam sepekan terakhir. Pasar mulai mengabaikan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah seiring meningkatnya aktivitas pengiriman tanker melalui Selat Hormuz, meskipun insiden keamanan di perairan Oman masih membayangi.
Berdasarkan data Refinitiv pada Jumat (26/6/2026) pagi, harga minyak Brent berada di US$74,48 per barel, turun 1,04% dari posisi sebelumnya. Sementara itu, WTI melemah 0,93% ke US$71,25 per barel. Dalam sepekan, Brent telah anjlok 7,6% dan WTI turun 7%, menghapus hampir seluruh kenaikan yang dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada Februari lalu.
Pelaku pasar kini lebih fokus pada pemulihan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global. Volume pengiriman minyak melalui selat tersebut pekan ini mencapai level tertinggi sejak konflik pecah, didorong oleh kesepakatan gencatan senjata yang membuka kembali jalur pelayaran. Namun, jumlah kapal yang melintas masih jauh di bawah rata-rata 125 kapal per hari sebelum krisis, menandakan pemulihan belum sepenuhnya tuntas.
Meski sentimen membaik, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Pada Kamis lalu, sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di dekat perairan Oman, yang sempat mendorong harga minyak melonjak lebih dari 2%. Organisasi Maritim PBB menghentikan sementara skema evakuasi sukarela bagi kapal di kawasan itu. Dua pejabat AS menuding Iran melepaskan tembakan, sementara Teheran menyatakan tidak menjamin keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi Hormuz.
Di sisi lain, gempa bumi di Venezuela pada Kamis memicu kekhawatiran terhadap produksi minyak negara tersebut, yang mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari. Meski fasilitas utama tidak rusak, gangguan pasokan listrik menimbulkan ketidakpastian apakah produksi dapat dipertahankan. Venezuela selama ini menjadi pemasok penting bagi kilang-kilang di Amerika Serikat, sehingga dampaknya bisa terasa di pasar global.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak memberikan angin segar bagi anggaran subsidi energi dan impor minyak mentah. Namun, volatilitas yang tinggi akibat ketegangan Timur Tengah masih menjadi ancaman. Pemerintah perlu mewaspadai potensi kenaikan harga jika terjadi eskalasi baru, terutama karena Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya.
Ke depan, pasar akan terus memantau kecepatan pemulihan arus tanker di Hormuz. Jika tidak ada gangguan besar baru, tekanan terhadap harga minyak berpeluang berlanjut. Namun, setiap insiden keamanan di kawasan itu bisa dengan cepat menghidupkan kembali premi risiko, membuat pergerakan harga tetap sulit diprediksi dalam jangka pendek.



