EU Tawarkan Kemitraan Mineral Kritis ke Brasil, Saingi Dominasi China dan AS
Baca dalam 60 detik
- Uni Eropa mengajukan skema investasi pemurnian dan teknologi mineral langka ke Brasil, menawarkan nilai tambah lebih besar dibanding China atau AS.
- Brasil, pemilik cadangan tanah jarang terbesar kedua dunia, mensyaratkan pemrosesan di dalam negeri sebagai syarat akses asing.
- Kesepakatan ini berpotensi menggeser rantai pasok global yang kini dikuasai China, namun tantangan pendanaan dan teknologi masih membayangi.

Uni Eropa secara terbuka menawarkan kerja sama yang lebih menguntungkan bagi Brasil di sektor mineral kritis, menantang dominasi China dan Amerika Serikat dalam perebutan akses bahan baku strategis. Komisaris Kemitraan Internasional Uni Eropa, Jozef Sikela, dalam kunjungannya ke Brasil pekan lalu, menekankan bahwa pendekatan blok Eropa ini mengedepankan keberlanjutan dan pemrosesan lokal, sejalan dengan ambisi Brasil untuk tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah.
Brazil, yang memiliki cadangan tanah jarang (rare earth) terbesar kedua di dunia, telah menetapkan pemrosesan di dalam negeri sebagai syarat utama bagi investor asing. Presiden Luiz Inacio Lula da Silva secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan mengulangi masa lalu ketika emas, perak, dan bijih besi diekspor tanpa nilai tambah. βKami tidak punya preferensi. Yang kami inginkan adalah berbagi dengan siapa pun yang mau berinvestasi di Brasil,β ujar Lula setelah bertemu Presiden AS Donald Trump pada Mei lalu.
Langkah Uni Eropa hadir di tengah persaingan ketat dengan AS yang telah lebih dulu mendekatkan Brasil. Tambang tanah jarang satu-satunya yang beroperasi di Brasil, Serra Verde, pada Desember lalu memutuskan kontrak jangka panjang dengan pembeli China dan dua bulan kemudian menutup paket pembiayaan senilai US$565 juta dari lembaga pembangunan AS (DFC), termasuk opsi kepemilikan saham minoritas bagi Washington. Sikela, dalam kunjungannya, bertemu dengan pejabat Kementerian Pertambangan dan Energi Brasil untuk membahas mekanisme pendanaan dan nota kesepahaman yang masih dalam negosiasi.
Uni Eropa mengandalkan strategi Global Gateway dan kemitraan bahan baku kritis sebagai kendaraan investasi. Sikela menyoroti proyek Viridis Mining and Minerals, perusahaan Australia yang berencana membangun pabrik komersial senilai US$360 juta di Pocos de Caldas, Minas Gerais, dengan kapasitas produksi 15.000 ton karbonat tanah jarang campuran per tahun mulai 2028. Unit percontohan yang dibuka Mei lalu mampu mengolah 100 kg bijih per jam. Viridis juga telah menandatangani surat niat dengan Solvay, perusahaan kimia Belgia, untuk pasokan karbonat, yang diperkirakan akan dikonkretkan pada akhir Juli.
CEO Viridis, Rafael Moreno, mengingatkan bahwa Brasil perlu bersabar karena China butuh dua dekade untuk membangun rantai nilainya. βChina butuh dua dekade untuk membuat rantai nilainya berfungsi, bukan dua bulan,β katanya dalam forum investasi ApexBrasil. Moreno juga menekankan bahwa prioritas harus pada pertambangan itu sendiri, karena produsen magnet dan pabrik pemisahan tidak akan datang tanpa pasokan bijih yang stabil. Viridis, menurut Moreno, tidak mencari pelanggan China, meskipun risiko tetap ada jika peralatan atau pengetahuan teknis yang digunakan berasal dari China, karena Beijing dapat memblokir ekspor.
Bagi Indonesia, persaingan ini memberikan gambaran tentang pentingnya hilirisasi mineral kritis. Brasil, seperti Indonesia, berusaha menaikkan posisi dalam rantai pasok global. Namun, tantangan pendanaan dan teknologi masih menjadi hambatan. Jika Uni Eropa berhasil membangun kemitraan dengan Brasil, model ini bisa menjadi referensi bagi negara-negara kaya sumber daya lainnya, termasuk Indonesia, yang tengah mendorong pengolahan nikel dan bauksit di dalam negeri. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru langkah Brasil tanpa ketergantungan pada teknologi asing yang justru membatasi akses pasar?



