Menabung Bukan karena Kaya: Riset BCA Ungkap Motif Precautionary Saving di Tengah Ketidakpastian
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan simpanan di bawah Rp100 juta mencapai 5,4% secara tahunan per April 2026, tertinggi dibanding kelompok saldo lainnya.
- BCA menilai lonjakan tabungan lebih disebabkan oleh perilaku berjaga-jaga menghadapi pelemahan rupiah dan kenaikan harga, bukan perbaikan pendapatan.
- Simpanan valas tumbuh 29,9% yoy, mengindikasikan pergeseran aset dari rupiah ke valuta asing di kalangan masyarakat mampu.

Kebiasaan menabung masyarakat Indonesia justru menguat di tengah tekanan ekonomi, namun bukan karena pendapatan yang membaik—melainkan karena kekhawatiran akan pelemahan rupiah dan lonjakan harga barang. Kajian terbaru BCA dalam laporan The Focal Point edisi 22 Juni 2026 mengungkap bahwa peningkatan simpanan lebih mencerminkan sikap precautionary saving, bukan optimisme konsumsi.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat total simpanan perbankan mencapai Rp10.107 triliun pada April 2026, naik 11,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan paling tajam justru terjadi pada kelompok saldo di bawah Rp100 juta, yang tumbuh 5,4% secara tahunan. Angka ini melampaui kelompok saldo Rp100 juta–Rp500 juta (3,1%) dan Rp500 juta–Rp1 miliar (2,4%).
BCA membagi dua jenis kekhawatiran utama. Kelompok masyarakat dengan dana lebih besar cenderung waspada terhadap pelemahan rupiah, sehingga mulai mengurangi simpanan rupiah dan beralih ke valuta asing. Sebaliknya, kelompok bawah lebih khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, sehingga justru menambah simpanan rupiah sebagai bantalan. "Perilaku berjaga-jaga di tengah tekanan rupiah yang masih berlanjut menjelaskan tertinggalnya simpanan rupiah dibandingkan simpanan valuta asing, terutama di kalangan penabung yang lebih mampu," tulis BCA dalam laporannya.
Pergeseran preferensi investasi turut mendorong tren ini. Pada Januari 2026, emas masih menjadi primadona dengan 41,4% rumah tangga memilihnya, namun pada Mei 2026 porsinya turun menjadi 36,3%. Sebaliknya, minat terhadap tabungan dan deposito melonjak dari 37,9% menjadi 42,7%. Kenaikan suku bunga deposito dan melambatnya laju kenaikan harga emas menjadi faktor utama di balik peralihan ini.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur yang tidak stabil turut mengonfirmasi bahwa perbaikan pendapatan belum merata. Manufacturing PMI pada Mei 2026 berada di level 49,7—kembali ke zona kontraksi—yang mengindikasikan pelemahan sektor pabrik. Indeks ekspektasi pendapatan rumah tangga enam bulan ke depan juga turun ke 136,5, lebih rendah dari level sebelumnya. Hal ini memperkuat tesis bahwa kenaikan simpanan kelompok bawah lebih disebabkan oleh perubahan perilaku pengelolaan uang, bukan karena pendapatan yang membaik tajam.
Implikasi dari fenomena ini cukup serius bagi target pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 5,4% pada 2026, namun jika masyarakat cenderung menahan konsumsi, permintaan domestik bisa tertekan. BCA mengingatkan bahwa "ancaman terhadap permintaan swasta berarti pemerintah mungkin tidak dapat memangkas komitmen fiskalnya secara besar-besaran sambil tetap mempertahankan pertumbuhan." Dengan tekanan rupiah yang masih berlanjut dan Bank Indonesia kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi, belanja pemerintah menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan. Pertanyaannya, mampukah APBN menopang permintaan di tengah meningkatnya kecenderungan menabung masyarakat?



