Lari dari Tekanan Kota: Kaum Muda China Berbondong ke Desa, Tapi Realitas Tak Seindah Layar
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 12 juta penduduk China telah kembali ke pedesaan untuk memulai usaha sejak 2025, didorong oleh kelelahan urban dan biaya hidup tinggi.
- Konten media sosial seperti video Zheng Junyu dan Dianxi Xiaoge mengglamorisasi kehidupan desa, namun para ahli memperingatkan kesenjangan antara tayangan dan kenyataan.
- Fenomena ini berpotensi menginspirasi tren serupa di Indonesia, di mana urbanisasi dan tekanan kota juga mendorong minat pada gaya hidup alternatif di desa.

Gelombang baru migrasi balik ke pedesaan tengah melanda China, didorong oleh kelelahan, ketidakpastian ekonomi, dan biaya hidup yang meroket di kota-kota besar. Fenomena ini, yang dipopulerkan melalui media sosial, menawarkan narasi pelarian yang indah, namun para pengamat mengingatkan bahwa realitas hidup di desa seringkali jauh dari gambaran ideal yang ditampilkan.
Zheng Junyu, mantan presenter televisi di Kunming, adalah salah satu wajah dari tren ini. Pada 2025, ia meninggalkan pekerjaannya yang terasa seperti "katak direbus perlahan"—frasa yang ia gunakan untuk menggambarkan kejenuhan dan tekanan finansial, termasuk biaya parkir yang tak terjangkau. Kini, ia tinggal di halaman tradisional seluas 2 meter persegi di Yunnan, membagikan kesehariannya yang tenang kepada lebih dari 328.000 pengikut di Xiaohongshu. "Hidup sederhana membuat lebih mudah merasa cukup," katanya dalam sebuah video.
Kisah Zheng bukanlah kasus terisolasi. Data resmi yang dirilis awal 2025 menunjukkan lebih dari 12 juta orang telah kembali ke daerah asal untuk memulai bisnis, menciptakan lapangan kerja dan model usaha baru. Platform seperti Douyin mencatat lebih dari 130.000 kreator yang kembali ke kampung halaman dalam setahun terakhir, dengan jumlah unggahan video bertema pedesaan mencapai 1,36 miliar. Sementara itu, Kuaishou memiliki lebih dari 140 juta pengguna yang tertarik pada konten pertanian dan pedesaan.
Vivianne Zhang Wei, seorang etnografer yang meneliti fenomena ini, menjelaskan bahwa perpindahan ini didorong oleh kombinasi kebijakan pemerintah—seperti strategi revitalisasi pedesaan yang diluncurkan pada 2017—dan faktor personal. "Banyak anak muda yang pindah karena kelelahan dan kekecewaan terhadap kehidupan kota," ujarnya. "Hidup desa yang lambat menjadi antitesis yang diimajinasikan."
Namun, daya tarik pedesaan China saat ini tidak lepas dari peningkatan infrastruktur. Jalan yang lebih baik, akses internet luas, dan modernisasi pertanian membuat hidup di desa tidak lagi identik dengan kerja keras yang melelahkan. Qian Forrest Zhang, sosiolog dari Singapore Management University, mencontohkan kawasan Delta Sungai Mutiara dan Delta Sungai Yangtze yang menawarkan rumah lebih luas, lingkungan hijau, dan akses ke fasilitas modern dalam jarak tempuh ke kota. "Orang pindah ke desa untuk pensiun, liburan, bekerja, atau gaya hidup alternatif," katanya.
Biaya hidup yang lebih rendah menjadi daya tarik utama. Zhou Chunsheng, profesor keuangan di Cheung Kong Graduate School of Business, mencatat bahwa pengeluaran per kapita untuk perumahan di Beijing pada kuartal I-2026 mencapai 5.391 yuan bagi penduduk kota, sementara penduduk desa hanya 2.299 yuan. "Di desa, kebutuhan dasar bisa dipenuhi dengan tekanan lebih kecil," ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa kurangnya lapangan kerja berkualitas, sekolah, dan fasilitas kesehatan masih menjadi kendala serius.
Media sosial memainkan peran ganda. Di satu sisi, kreator seperti Li Ziqi dan Dianxi Xiaoge (Dong Meihua) menampilkan kehidupan desa yang estetik dan damai, menarik jutaan pengikut. Dong, yang memiliki 12 juta pelanggan YouTube, merekam pemandangan gunung hijau dan masakan lokal. "Hidup desa itu damai dan hangat," katanya. Namun, para ahli memperingatkan bahwa tayangan tersebut seringkali merupakan versi kurasi yang tidak mencerminkan kerja keras pertanian. "Turis kota hanya menikmati konsumsi ala kota di lokasi pedesaan, tanpa melihat sisi agrikultural," kata Qian Forrest Zhang.
Kritik juga datang dari warganet yang tumbuh di pedesaan. Seorang pengguna Xiaohongshu bernama Quail menulis, "Menggunakan cangkul bikin lecet, menuai gandum melukai tangan, kulit terasa mengelupas karena terik matahari." Pengguna lain, WW, menegaskan, "Bertani itu melelahkan dan tidak menghasilkan banyak uang. Anak yang benar-benar dari desa tidak akan merindukan hidup seperti itu."
Fenomena ini relevan untuk dicermati di Indonesia, di mana urbanisasi juga menimbulkan tekanan serupa. Kemacetan, polusi, dan biaya hidup tinggi di Jakarta, Surabaya, atau Bandung mendorong sebagian orang mencari alternatif di desa. Namun, kesenjangan infrastruktur dan akses layanan dasar masih menjadi tantangan. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap meniru model revitalisasi pedesaan China, ataukah tren ini hanya akan menjadi pelarian sesaat bagi segelintir orang?



