Johanna Konta Soroti Ketahanan Mental Emma Raducanu: Cedera Akar Stres?
Baca dalam 60 detik
- Mantan petenis nomor satu Inggris, Johanna Konta, menilai Emma Raducanu perlu meningkatkan toleransi terhadap tekanan agar tidak mudah cedera.
- Raducanu kembali mengalami masalah fisik jelang Wimbledon 2026, memicu kekhawatiran setelah sempat tampil impresif di Queen's Club.
- Konta menyebut karier Raducanu yang 'terbalik' usai juara US Open 2021 membuatnya terus beradaptasi dengan ekspektasi dan beban mental.

Persiapan Emma Raducanu menuju Wimbledon 2026 kembali terusik oleh cedera, dan mantan petenis nomor satu Inggris, Johanna Konta, menilai juara US Open 2021 itu perlu membangun ketahanan terhadap tekanan agar kariernya tidak terus-menerus diganggu masalah fisik. Raducanu, yang pekan lalu mencapai final Queen's Club, terpaksa memotong sesi latihan karena nyeri tulang kering dan membatalkan konferensi pers jelang laga perdana melawan Antonia Ruzic, Senin (1/7).
Sejak mengejutkan dunia dengan gelar Grand Slam pertamanya sebagai kualifikasian pada 2021, Raducanu, 23 tahun, bergulat dengan rentetan cedera dan pergantian pelatih. Setelah bersatu kembali dengan Andrew Richardson—pelatih yang sempat ia tinggalkan—ia menunjukkan kebangkitan di Queen's Club. Namun, masalah lama kembali menghantui: mundur dari Nottingham Open dan kini nyeri pada kaki bagian bawah.
Konta, yang pernah mencapai semifinal Wimbledon dan peringkat empat dunia, menilai sebagian cedera Raducanu berakar pada stres akibat ekspektasi tinggi. "Menurut saya, Emma perlu terus membangun toleransinya terhadap kesulitan," ujar Konta kepada Reuters. "Bukan karena dia tidak bisa menghadapi masa sulit, tetapi ketika sesuatu tidak berjalan baik, rasa sakit lebih mudah terasa. Cedera sering kali berakar pada stres."
Konta menggambarkan karier Raducanu sebagai "terbalik" setelah kemenangan mengejutkan di Flushing Meadows. "Sejak itu, ia seperti mengejar ketertinggalan—mencari pengalaman, kebugaran, dan tahun-tahun di tur sebagai juara Grand Slam," kata Konta. Ia berharap Raducanu tidak terus-menerus merasa perlu menjelaskan setiap kegagalan, melainkan menerima bahwa tekanan adalah bagian dari perjalanan.
Raducanu musim ini juga berjuang melawan penyakit pasca-virus dan masalah punggung sebelum tersingkir di babak pertama Prancis Terbuka. Pada 2023, ia absen di Prancis Terbuka dan Wimbledon setelah menjalani operasi pada kedua tangan dan pergelangan kaki. Musim lalu ia mengakhiri lebih awal karena sakit.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Raducanu menjadi pengingat bahwa kesuksesan instan tidak selalu diikuti oleh stabilitas. Tekanan untuk mempertahankan performa, terutama di usia muda, dapat memicu masalah fisik yang sebenarnya berakar dari mental. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi pada atlet muda yang tiba-tiba meraih prestasi internasional, seperti pebulu tangkis atau atlet angkat besi, yang kemudian kesulitan menjaga konsistensi akibat beban ekspektasi.
Pertanyaan besarnya: mampukah Raducanu mengelola tekanan dan kembali ke jalur kemenangan, atau akankah cedera terus menghantuinya? Wimbledon akan menjadi ujian nyata bagi ketahanan mental dan fisiknya.



