Tidur Satu Ranjang dengan Hewan Peliharaan: Risiko Kesehatan vs Kenyamanan Emosional
Baca dalam 60 detik
- Survei 2022 di AS menunjukkan hampir separuh pemilik hewan peliharaan tidur satu ranjang dengan hewannya, namun para ahli mengingatkan risiko infeksi dari bakteri, parasit, dan kutu.
- Risiko sakit akibat tidur dengan hewan tergolong rendah, kecuali pada individu dengan sistem imun lemah; kasus infeksi serius seperti plague dan infeksi luka operasi pernah dilaporkan.
- Dampak terhadap kualitas tidur masih diperdebatkan: beberapa studi menunjukkan gangguan tidur, namun manfaat emosional dan rutinitas seperti jalan pagi bisa meningkatkan kualitas istirahat.

Hampir separuh pemilik hewan peliharaan di Amerika Serikat mengaku tidur satu ranjang dengan kucing atau anjingnya, menurut survei tahun 2022. Namun, kebiasaan yang tampak menggemaskan ini menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan, mulai dari paparan kutu hingga infeksi bakteri langka. Psikolog tidur Shelby Harris dari New York City mengungkapkan bahwa banyak pasiennya langsung menduga ia akan melarang kebiasaan tersebut, padahal tidak selalu demikian.
Dr. Josh Daniels, dokter hewan dan mikrobiolog dari Colorado State University, menjelaskan bahwa hewan peliharaan dapat membawa kutu, caplak, parasit, dan bakteri ke dalam tempat tidur. Meskipun risiko tertular penyakit tergolong kecil, beberapa kasus ekstrem pernah tercatat. Pada 1991, seorang wanita berusia 81 tahun di Finlandia dirawat di rumah sakit karena infeksi bakteri dari mulut kucing yang biasa menjilati kakinya. Kasus lain pada 2000 melibatkan seorang pria 69 tahun yang mengalami infeksi di sekitar luka operasi pinggul setelah tidur dengan anjingnya. Bahkan, ada laporan pemilik anjing yang tertular plague melalui kutu.
Bruno Chomel, profesor emeritus di University of California, Davis, menegaskan bahwa risiko tersebut sangat kecil bagi individu dengan sistem imun normal. Namun, ia mengingatkan bahwa risiko itu nyata. Langkah pencegahan seperti pemberian obat kutu dan caplak secara rutin, serta deworming berkala, sangat dianjurkan. Dr. Daniels juga memperingatkan bahaya ringworm, terutama pada hewan yang baru diadopsi dari shelter atau masih anak-anak.
Dari sisi kualitas tidur, penelitian masih terbatas. Studi tahun 2017 pada 40 pemilik anjing menemukan bahwa tidur dengan hewan di ranjang menurunkan efisiensi tidur. Sementara itu, studi tahun 2020 pada 12 wanita menunjukkan bahwa meskipun hewan mengganggu tidur, partisipan jarang menyadarinya. Namun, Dr. Douglas Wallace, profesor neurologi klinis di University of Miami, berteori bahwa dukungan emosional dari hewan peliharaan mungkin mengimbangi efek negatif tersebut. Ia mencontohkan pemilik anjing yang rutin jalan pagi mendapatkan manfaat olahraga dan jadwal bangun yang konsisten, yang justru mendukung tidur berkualitas.
Bagi pembaca di Indonesia, kebiasaan tidur dengan hewan peliharaan juga cukup umum, terutama di perkotaan di mana hewan sering dianggap anggota keluarga. Namun, kesadaran akan kebersihan hewan dan risiko zoonosis masih perlu ditingkatkan. Dokter hewan di Indonesia menyarankan vaksinasi rutin, pemeriksaan parasit, dan menjaga kebersihan tempat tidur. Jika Anda merasa tidur terganggu, psikolog Harris menyarankan untuk mencoba memisahkan hewan selama beberapa malam dan melihat perbedaannya. Jika tidak ada perubahan, tidur bersama hewan mungkin tidak menjadi masalah.
Ke depannya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur secara objektif keseimbangan antara risiko kesehatan dan manfaat emosional dari kebiasaan ini. Apakah kenyamanan psikologis mampu mengkompensasi potensi gangguan tidur dan paparan kuman? Jawabannya mungkin bergantung pada kondisi masing-masing individu dan hewan peliharaannya.



