LIV Golf di Ambang Krisis: Kejuaraan Tim Batal, Jon Rahm Dikabarkan Hengkang
Baca dalam 60 detik
- Liga golf LIV menghadapi ketidakpastian besar setelah PIF menghentikan pendanaan, memicu pembatalan turnamen pamungkas musim ini.
- Investor baru yang belum disebutkan namanya siap menopang LIV pada 2027, dengan skema pemain sebagai pemegang saham mayoritas.
- Spekulasi hengkangnya Jon Rahm menambah daftar masalah, sementara kompetisi menyusut drastis dari 14 menjadi 10 event musim depan.

Liga golf LIV kembali diterpa guncangan besar. Kejuaraan Tim penutup musim yang dijadwalkan berlangsung di Michigan pada akhir Agustus dilaporkan bakal dibatalkan, menyusul kabar bahwa para pemain telah diberi peringatan soal pembatalan tersebut. Situs resmi LIV bahkan sudah menonaktifkan pembelian tiket untuk ajang tersebut, dengan keterangan tiket lapangan maupun hospitality "tidak lagi tersedia".
Kabar ini pertama kali diungkap oleh The Telegraph, yang menyebut turnamen di Indiana pada pekan depan kemungkinan besar menjadi ajang terakhir musim 2026. Meski LIV belum mengeluarkan pernyataan resmi, spekulasi semakin liar setelah muncul laporan bahwa Jon Rahm, salah satu bintang terbesarnya, bisa segera meninggalkan liga. Sebelumnya, mantan pejabat nomor satu dunia Martin Kaymer pada Juli lalu sudah memprediksi pembatalan ini, meski Cameron Smith masih berharap acara tetap berjalan.
Kekacauan ini berakar dari keputusan Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) yang mengumumkan pada April lalu untuk menghentikan pendanaan miliaran dolar pada akhir musim. PIF telah mengucurkan lebih dari US$5 miliar sejak LIV diluncurkan pada 2022. Tanpa suntikan dana tersebut, kelangsungan LIV menjadi tanda tanya besar, dan pembatalan turnamen menjadi konsekuensi paling nyata.
Di tengah ketidakpastian itu, LIV sebenarnya mengklaim telah mendapatkan investor utama yang namanya dirahasiakan untuk menjaga kompetisi tetap berjalan pada 2027. CEO Scott O'Neil menyatakan perjanjian telah ditandatangani dan disetujui dewan, dengan transaksi diharapkan rampung pada September. Namun, detail nilai investasi tidak diungkap. O'Neil juga menyebut rencana menjadikan para pemain sebagai "pemegang saham mayoritas", sebuah langkah yang disebutnya pertama kali dalam sejarah liga olahraga global besar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati mengingat popularitas golf yang terus tumbuh di tanah air. Meski LIV tidak memiliki jadwal di Asia Tenggara, perubahan lanskap golf global bisa berdampak pada ketersediaan siaran, turnamen, dan peluang bagi pegolf Indonesia untuk tampil di panggung internasional. Jika LIV meredup, PGA Tour dan DP World Tour yang baru saja menjalin aliansi dengan Asian Tour akan semakin dominan, yang bisa membuka lebih banyak akses bagi pegolf Asia, termasuk Indonesia, ke kompetisi level atas.
Di sisi lain, kabar hengkangnya Jon Rahm menjadi pukulan telak bagi citra LIV. Rahm, bersama Bryson DeChambeau, Dustin Johnson, dan Cameron Smith, adalah wajah-wajah yang membuat LIV diminati. O'Neil sendiri mengakui pentingnya mereka, dengan menyatakan bahwa ia "punya banyak waktu" untuk para bintang tersebut dan berharap mereka tetap bertahan. Namun, jika Rahm pergi, bisa menjadi sinyal bahwa daya tarik LIV mulai pudar.
LIV yang lahir pada 2021 dan memulai kompetisi setahun kemudian dengan format 54 lubang, kini harus beradaptasi dengan realitas baru. Musim ini mereka bahkan sudah beralih ke format 72 lubang tradisional. Dengan rencana mengurangi jumlah turnamen dan ketidakjelasan investor, masa depan LIV masih diselimuti kabut. Pertanyaannya, akankah investor baru itu benar-benar merealisasikan komitmennya, atau justru menjadi babak akhir dari kisah liga kontroversial ini?



