Afrika Selatan Incar Kejutan Baru di Piala Dunia 2026: Tantangan Fisik Kanada Menanti
Baca dalam 60 detik
- Afrika Selatan untuk pertama kalinya lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Korea Selatan 1-0.
- Pelatih Hugo Broos menegaskan timnya belum puas dan siap merepotkan Kanada yang dikenal agresif dan kuat secara fisik.
- Di usia 74 tahun, Broos mengisyaratkan Piala Dunia ini bisa menjadi pamungkas kariernya, namun izin sang istri memperpanjang 'tugas'.

Langkah bersejarah Afrika Selatan di Piala Dunia 2026 belum berakhir. Setelah menembus babak 32 besar untuk pertama kalinya, skuad asuhan Hugo Broos justru semakin lapar akan prestasi. Mereka akan menghadapi Kanada di Los Angeles, Minggu (28/6), dengan modal kemenangan mengejutkan atas Korea Selatan.
Pelatih asal Belgia itu menegaskan bahwa target awal timnya telah tercapai. Namun, ambisi tidak berhenti di situ. “Kami bisa bilang sekarang bahwa Piala Dunia ini sudah sukses bagi kami. Tapi itu bukan berarti kami puas dan hanya menjalani pertandingan besok lalu pulang. Begitu Anda sampai di sini, Anda pasti ingin lebih,” ujar Broos dalam konferensi pers, Sabtu (27/6).
Kanada bukan lawan yang mudah. Broos menggambarkan tim asuhan John Herdman sebagai tim yang sangat agresif dalam pressing, memberikan tekanan tinggi, dan jarang memberi ruang bagi lawan. “Mereka semua bergerak untuk satu tujuan. Begitu kehilangan bola, semua pemain ingin merebutnya kembali. Itu sangat sulit dilawan,” katanya. Untuk mengatasi hal tersebut, Afrika Selatan harus menampilkan level permainan dan mentalitas seperti saat mengalahkan Korea Selatan.
Perjalanan Afrika Selatan di turnamen ini tidak mulus. Mereka kalah di laga perdana melawan Meksiko di Stadion Azteca. Namun, pengalaman bermain di panggung terbesar justru menjadi guru berharga. “Pertandingan pertama sangat baik bagi kami. Sekarang kami percaya pada diri sendiri,” kata Broos. Kemenangan atas Korea Selatan menjadi titik balik yang mengubah kepercayaan diri tim.
Di usianya yang ke-74, Broos sadar bahwa Piala Dunia ini kemungkinan besar menjadi yang terakhir baginya. Ia bahkan mengisyaratkan bisa saja ini menjadi akhir dari karier kepelatihannya. Rindu keluarga dan cucu di Belgia kerap menghampiri, namun setelah kemenangan atas Korea Selatan, sang istri memberikan lampu hijau. “Dia bilang, ‘Oke, kamu bisa tinggal seminggu lagi, tidak masalah’,” canda Broos.
Bagi Indonesia, perjalanan Afrika Selatan ini bisa menjadi inspirasi. Tim yang sempat diragukan mampu bersaing di level tertinggi justru menunjukkan bahwa konsistensi dan kepercayaan diri bisa mengubah segalanya. Pelajaran tentang pressing tinggi dan transisi cepat yang ditunjukkan Kanada juga relevan dengan perkembangan taktik sepak bola modern di Asia Tenggara.
Para pemain Afrika Selatan bertekad memperpanjang petualangan setidaknya satu pertandingan lagi. Apakah mereka mampu menaklukkan Kanada dan melangkah lebih jauh? Atau justru langkah heroik mereka akan terhenti di Los Angeles? Satu hal yang pasti: semangat 'Bafana Bafana' tidak bisa diremehkan.



