DR Congo di Ambang Lolos ke 16 Besar: Balas Dendam 52 Tahun di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Republik Demokratik Kongo hanya butuh kemenangan atas Uzbekistan untuk lolos ke babak gugur, melanjutkan misi menghapus kenangan buruk debut 1974.
- Uzbekistan, yang belum pernah meraih poin di Piala Dunia, membutuhkan kemenangan besar demi peluang tipis sebagai peringkat ketiga terbaik.
- Perjalanan Kongo dari playoff Afrika hingga ke Piala Dunia 2026 menjadi kisah kebangkitan yang menginspirasi, termasuk menyingkirkan Kamerun dan Nigeria.

Kemenangan atas Uzbekistan pada laga pamungkas Grup K tidak hanya membuka peluang Republik Demokratik Kongo melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026, tetapi juga menjadi momentum untuk menebus aib yang membekap selama 52 tahun. Sejak debut memalukan pada 1974 dengan julukan Zaire, Kongo belum pernah lagi menginjakkan kaki di panggung terbesar sepak bola dunia hingga kini.
Pertandingan yang akan digelar di Atlanta, Sabtu (25/6), menjadi penentu nasib kedua tim. Kongo saat ini mengoleksi satu poin berkat hasil imbang 1-1 melawan Portugal, sebelum kalah tipis 0-1 dari Kolombia. Sementara Uzbekistan, debutan asal Asia, belum meraih satu pun poin setelah dibantai Kolombia dan Portugal dengan total kebobolan delapan gol. Secara matematis, Uzbekistan masih berpeluang lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik, namun harus menang dengan selisih gol yang besar.
Bagi Kongo, lolos ke putaran final tahun ini adalah sebuah keajaiban. Tujuh bulan lalu mereka masih harus melewati babak playoff Afrika setelah gagal lolos langsung. Dalam perjalanan dramatis, tim asuhan pelatih Hector Cuper menyingkirkan Kamerun, Nigeria, dan Jamaika dalam laga inter-konfederasiโtotal 13 pertandingan sebelum akhirnya memastikan tiket ke Amerika Serikat.
Momentum ini menjadi lebih bermakna karena Kongo datang ke Piala Dunia 2026 dengan status tim yang diremehkan. Pada 1974, saat masih bernama Zaire, mereka menjadi bulan-bulanan setelah kebobolan 14 gol tanpa balas. Tim saat itu dianggap naif dan tertinggal dari perkembangan taktik global. Kini, kesempatan untuk membersihkan citra buruk itu ada di depan mata. "Setelah 52 tahun, memiliki kesempatan untuk menghapus citra buruk 1974 adalah sebuah kesuksesan besar. Apa yang terjadi di Piala Dunia adalah bonus, dan lolos ke babak berikutnya akan menjadi luar biasa," ujar Kabulo Mwana Kabulo, mantan menteri olahraga dan pengamat sepak bola Kongo, kepada Reuters.
Di sisi lain, Uzbekistan datang dengan misi berbeda. Pelatih Fabio Cannavaro, yang pernah membawa Italia juara Piala Dunia 2006, menekankan pentingnya keberanian. "Saya meminta pemain untuk lebih berani, bermain sepak bola, dan tidak takut. Jika Anda memiliki pola pikir itu, Anda bisa tumbuh sebagai tim dan individu," kata Cannavaro. Meski sudah tersingkir, Uzbekistan ingin mengakhiri turnamen dengan catatan positif, setidaknya meraih poin perdana dalam sejarah Piala Dunia mereka.
Pertandingan ini juga menarik perhatian penggemar sepak bola Indonesia karena potensi kebangkitan tim Afrika yang kerap menjadi inspirasi. Bagi Kongo, laga melawan Uzbekistan bukan sekadar soal lolos atau tidak, melainkan tentang martabat dan warisan. Apakah Kongo mampu mengulang kejutan seperti saat menahan Portugal, atau justru Uzbekistan yang akhirnya menorehkan sejarah? Jawabannya akan ditentukan di Atlanta.



