Piala Dunia 2026: Stadion-Stadion Terbaik Versi Jurnalis BBC, Mana Paling Berkesan?
Baca dalam 60 detik
- Stadion Azteca di Meksiko dinilai sebagai venue paling sarat sejarah, dengan atmosfer suporter yang sulit ditandingi.
- Lumen Field Seattle unggul dalam desain akustik yang membuat gemuruh suporter terasa hingga ke luar stadion.
- Dallas dan Atlanta menawarkan kenyamanan modern dengan AC dan layar raksasa, namun MetLife Stadium justru menuai kritik di AS.

Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara—Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada—menghadirkan 16 stadion dengan karakteristik unik. Dari venue bersejarah hingga bangunan ultra-modern, para jurnalis BBC Sport yang meliput langsung memberikan penilaian subjektif mereka. Azteca, Lumen Field, dan Dallas menjadi sorotan utama, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan yang mencolok.
Stadion Azteca di Mexico City menjadi favorit para reporter karena aura sejarahnya. Dibangun pada 1966, stadion ini menjadi saksi gol legendaris Carlos Alberto di final 1970 dan aksi 'Tangan Tuhan' Diego Maradona di 1986. Meski telah direnovasi, lapangannya masih memancarkan kilau khas yang sama seperti puluhan tahun lalu. “Saya ragu akan ada panggung yang lebih baik di Piala Dunia ini,” ujar salah satu jurnalis, seraya menambahkan bahwa kaskade sombrero dari suporter Meksiko saat laga pembuka menjadi momen tak terlupakan. Namun, ada catatan: Azteca dinilai layak menjadi tuan rumah final, bukan sekadar laga pembuka.
Di sisi lain, Lumen Field Seattle—markas Seattle Seahawks NFL—mendapat pujian atas desain akustiknya yang luar biasa. Atap melengkung di dua tribun samping bertindak sebagai pengeras suara alami, membuat sorak-sorai penonton mengguncang stadion. Bahkan, venue ini dua kali masuk Guinness World Records untuk tingkat kebisingan. “Suaranya bisa terdengar dari jarak 25 menit jalan kaki,” kata seorang reporter. Pemandangan kota Seattle dan Gunung Rainier yang tertutup salju dari dalam stadion menambah nilai estetika. Namun, akses menuju stadion dari pusat kota disebut memakan waktu lama, dan petunjuk arah di sekitar venue dinilai sangat buruk.
Dallas Stadium menawarkan kenyamanan berbeda: atap tertutup dan AC yang membuat suhu tetap sejuk meski di luar terik. Tribun curam dan layar raksasa di tengah lapangan membantu penonton di ketinggian untuk tetap mengikuti pertandingan. “Saya bersyukur ada layar itu, karena kursi kami sangat tinggi,” ungkap salah satu jurnalis. Akses lalu lintas menuju stadion juga lancar berkat jalan lebar di sekitarnya. Sementara itu, Atlanta Stadium memukau dengan eksterior kaca dan baja yang futuristik, serta layar melingkar raksasa yang menggantung di atap. Namun, tribun yang tidak simetris dan eskalator di belakang gawang membuat beberapa sudut pandang terhalang.
MetLife Stadium, yang menjadi tuan rumah final, justru menuai kontroversi. Seorang jurnalis BBC sempat memujinya sebagai “stadion yang membuat napas terhenti” di media sosial, tapi unggahan itu viral justru karena banyak warga AS yang tidak menyukai venue tersebut. Meski demikian, dari segi arsitektur, MetLife dianggap memiliki efek wow saat pertama kali dimasuki karena tribunnya yang sangat tinggi. Sebaliknya, Arrowhead Stadium di Kansas City mendapat nilai tinggi untuk pengalaman tailgating—tradisi berpiknik di parkir sebelum pertandingan—dan menjadi saksi hat-trick Lionel Messi saat Argentina mengalahkan Aljazair.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi ajang untuk membandingkan standar stadion di kawasan Amerika Utara dengan yang ada di Tanah Air. Stadion seperti Gelora Bung Karno atau Stadion Internasional Jakarta mungkin belum memiliki fitur akustik canggih atau AC sentral, namun atmosfer suporter Indonesia yang dikenal fanatik bisa menjadi tandingan. Ke depan, Indonesia yang tengah giat membangun infrastruktur olahraga bisa belajar dari desain Lumen Field yang menggabungkan fungsionalitas dan estetika, atau dari Dallas yang mengutamakan kenyamanan penonton. Pertanyaannya, mampukah Indonesia menciptakan stadion yang tak hanya megah, tapi juga meninggalkan kesan mendalam seperti Azteca?



