Kisah Pilu Justene Alpert: Gugurkan Kandungan karena Janin Idap Penyakit Genetik Langka
Baca dalam 60 detik
- Aktris Justene Alpert mengungkapkan pengalaman traumatis menggugurkan kandungan di usia kehamilan 4 bulan setelah janin didiagnosis penyakit genetik langka.
- Keputusan berat itu diambil atas rekomendasi dokter spesialis yang menyebut kehamilan berisiko tinggi jika diteruskan hingga cukup bulan.
- Justene berharap ceritanya bisa membuka diskusi tentang aborsi medis dan mengurangi stigma yang kerap dialami perempuan dalam situasi serupa.

Aktris Justene Alpert, yang dikenal lewat serial How I Met Your Mother, membagikan pengalaman pahitnya menggugurkan kandungan pada Desember lalu setelah janin laki-lakinya didiagnosis mengidap penyakit genetik langka. Dalam unggahan panjang di Instagram, Senin (26/6), ia menyebut momen itu sebagai "mimpi buruk" yang menghancurkan harapannya menjadi seorang ibu.
Justene, 36 tahun, dan suaminya Mason Trueblood, 35 tahun, menerima rekomendasi terminasi kehamilan dari dokter saat memasuki trimester kedua. Padahal, saat itu mereka baru saja mulai memberi tahu keluarga dan teman-teman dekat tentang kabar bahagia tersebut. "Pada 22 Desember, kebahagiaanku—dan jika jujur, cahayaku—direnggut dariku," tulisnya.
Pemeran dalam film Old Dads itu menceritakan bahwa diagnosis diterimanya melalui panggilan telepon singkat di luar kantornya. Ia diminta segera menemui spesialis genetik untuk memastikan temuan tersebut. "Bayi kami didiagnosis dengan penyakit genetik langka. Mereka perlu memburu saya ke spesialis genetik untuk mengonfirmasi mimpi buruk itu. Dia tidak akan bisa bertahan hingga cukup bulan," kenangnya.
Justene mengaku sulit menerima kenyataan karena ia sempat melihat detak jantung janinnya di layar monitor. "Dia memiliki profil paling indah. Dia punya hidung ayahnya. Aku sudah siap untuknya. Tapi kemudian mereka menunjukkan cairan, organ, dan sebagainya," ujarnya.
Seorang spesialis memperingatkan bahwa kehamilan tersebut masuk kategori "berisiko tinggi" jika tetap dipertahankan. "Dalam situasi seperti ini, aku selalu tipe orang yang ingin mendengar semuanya secara langsung. Dan kemudian aku mendengar kalimat yang tak pernah kubayangkan saat kami siap memiliki keluarga... 'Kami sangat merekomendasikan untuk mengakhiri kehamilan ini, dan kami harus melakukannya dengan cepat,'" tulis Justene.
Keputusan itu, menurutnya, memadamkan cahaya dalam dirinya secepat mobil F1 melintas. "Rambutmu langsung terangkat dan menampar wajahmu sehingga saat kau mencoba melihat ke luar, yang kau lihat hanyalah helai rambut tak berujung yang dulu membingkai wajahmu. Secepat itu. Hilang," deskripsinya.
Selama enam hari setelah diagnosis, Justene dan Mason berusaha keras menikmati Natal bersama bayi mereka, meski diliputi duka. Mereka berjalan-jalan di pantai bersama anjing mereka, Indy, sebagai keluarga berempat, berusaha bertahan hidup sambil bergandengan tangan. Pada 29 Desember, mereka harus mengucapkan selamat tinggal.
Justene mengaku berusaha memasuki ruang operasi dengan anggun, meski hancur. Ia terus mengulang kalimat, "Dia berselimut martabat dan kekuatan." Ia juga berpesan kepada perempuan yang mengalami hal serupa untuk tidak memaksakan diri terlihat baik-baik saja. "Menangis? Normal. Muntah karena duka dan trauma? Tidak tahu sebelumnya... Normal," katanya.
Pasangan itu berdoa mati-matian untuk keajaiban atau keguguran, namun kenyataan tetap terasa tidak nyata. "Kami tidak ingin membuat keputusan ini. Tidak ada ibu atau ayah yang seharusnya ditempatkan dalam posisi ini. Rasa malu dan bersalah tidak adil. Ini adalah rasa sakit terburuk, dan banyak yang menderita dalam diam karena takut dihakimi atau disalahpahami," tulisnya.
Justene mengakui bahwa topik aborsi medis jarang dibicarakan secara terbuka. "Tidak ada yang mempersiapkanmu untuk ini. Tidak ada yang membicarakannya. Tidak ada yang memberi pengarahan saat kamu berusaha memiliki keluarga. Ini membuat frustrasi, menyedihkan, traumatis, dan semuanya. Tapi aku berharap bisa memulai sedikit gelombang dalam kolam pengetahuan ini," ungkapnya.
Di Indonesia, isu aborsi masih sangat sensitif dan kerap dihadapkan pada stigma sosial serta batasan hukum. Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 hanya mengizinkan aborsi dalam kondisi darurat medis atau akibat perkosaan. Kisah Justene menyoroti dilema etis dan psikologis yang dihadapi pasangan saat menghadapi diagnosis fatal pada janin—sebuah realitas yang mungkin juga dialami sebagian keluarga di Tanah Air, namun jarang diungkap ke publik.
Justene menutup unggahannya dengan pesan untuk putranya, Mads Mason Trueblood. "Terima kasih telah menjadikanku seorang ibu. Kaulah yang memberiku tulang punggung saat aku ragu apakah aku siap menjadi ibu atau tidak. Aku sudah siap untukmu. Ayahmu dan aku memikirkanmu setiap hari, dan aku menantikan untuk memeluk bocah manis dengan profil paling sempurna itu. Sampai saat itu, aku tahu Finley akan selalu di sisimu. Aku mencintaimu dulu, aku mencintaimu sekarang, dan aku akan mencintaimu selamanya."
Ke depan, publik mungkin akan lebih banyak mendengar cerita serupa seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental ibu dan pentingnya dukungan bagi mereka yang menjalani aborsi medis. Pertanyaannya, mampukah masyarakat—termasuk di Indonesia—memberikan empati tanpa penghakiman?



