IHSG Bangkit 1% Usai Anjlok 3,56%, Investor Lega MSCI Pertahankan Status Emerging Market
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (25/6/2026) setelah sehari sebelumnya ambles 3,56%, dengan seluruh sektor berada di zona hijau.
- Keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi emerging market menjadi katalis utama, meski ada catatan reformasi yang akan dievaluasi ulang pada November 2026.
- Tekanan eksternal dari indeks dolar AS yang menembus 101,6 dan rupiah yang melemah empat hari beruntun masih membayangi prospek IHSG ke depan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan arah pada perdagangan Kamis (25/6/2026) dengan menguat lebih dari 1%, setelah sehari sebelumnya ambles 3,56% yang membuat investor cemas. Seluruh sektor saham kompak menghijau, menandakan sentimen positif mulai merambat kembali ke bursa domestik.
Berdasarkan data Refinitiv, IHSG sempat dibuka di zona merah namun dengan cepat berbalik arah dan melesat naik. Tercatat 463 emiten menguat, 153 melemah, dan 343 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 3,02 triliun dengan volume 5,13 miliar saham dalam 400.300 kali transaksi. Kapitalisasi pasar masih berada di bawah Rp 11.000 triliun, tepatnya Rp 10.426 triliun.
Penguatan dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 7,02 poin terhadap IHSG, diikuti oleh PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 5,83 poin, PT Astra International Tbk (ASII) 4,79 poin, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 4,78 poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 4,70 poin. Sementara itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi pemberat utama dengan kontribusi negatif 1,21 poin.
Katalis utama di balik reli ini adalah keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Keputusan itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi arus keluar dana asing besar-besaran jika status Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market. Meski demikian, MSCI masih memberikan catatan terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas reformasi pasar modal yang akan dievaluasi kembali pada November 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah menyambut positif keputusan tersebut. Menurut OJK, hal ini mencerminkan kepercayaan investor global yang masih kuat terhadap pasar keuangan Indonesia. OJK berkomitmen melanjutkan reformasi untuk memperkuat integritas dan transparansi pasar. Sementara pemerintah menilai evaluasi lanjutan MSCI merupakan proses yang wajar dan akan direspons dengan perbaikan regulasi.
Di sisi eksternal, perhatian investor kini beralih ke rilis inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi acuan utama The Federal Reserve. Jika inflasi PCE kembali meningkat, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) akan menguat, mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury. Hal itu berpotensi menekan aset berisiko termasuk IHSG dan rupiah. Selain itu, data klaim pengangguran mingguan AS juga dinanti untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja.
Indeks dolar AS yang telah menembus level 101,609 menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah dan pasar saham domestik. Rupiah ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925/US$ pada Rabu (25/6/2026), memperpanjang tren pelemahan selama empat hari perdagangan beruntun. Tekanan terhadap arus modal ke negara berkembang masih terasa.
Ke depan, IHSG masih akan bergulat dengan sentimen eksternal dan domestik. Evaluasi MSCI pada November 2026 menjadi ujian kredibilitas reformasi pasar modal Indonesia. Akankah optimisme investor mampu bertahan di tengah tekanan dolar yang masih perkasa?



