Kerala Bentuk Departemen Lansia Pertama di India, Respons atas Krisis Kesepian Akibat Migrasi
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kerala meluncurkan departemen khusus kesejahteraan lansia pertama di India untuk mengatasi dampak migrasi anak-anak yang meninggalkan orang tua.
- Strategi 'ageing in place' mencakup perluasan perawatan komunitas, pelatihan pengasuh bersertifikat, dan survei lansia untuk menyusun peta jalan Silver Economy.
- Tantangan utama tetap pada kesepian dan isolasi sosial, dengan anggaran awal yang dinilai simbolis oleh sejumlah pihak.

Di Kerala, negara bagian paling cepat menua di India, seorang kakek berusia 70 tahun memulai harinya dengan menelepon putranya yang bekerja di Timur Tengah dan Karnataka. Namun ketika ia dan istrinya membutuhkan bantuan di rumah, bukan anak-anak mereka yang datang—melainkan tetangga. Kisah TO Dominic dan MJ Martha ini mencerminkan realitas pahit yang kian meluas: lansia yang ditinggal anak-anaknya merantau, dan kesepian menjadi teman setia masa tua.
Pemerintah Kerala bulan lalu mengumumkan pembentukan departemen khusus kesejahteraan lansia, yang diklaim sebagai yang pertama di India. Langkah ini lahir dari tekanan demografis: menurut laporan Reserve Bank of India, pada 2036 hampir satu dari empat penduduk Kerala—22,8%—akan berusia di atas 60 tahun, jauh di atas rata-rata nasional 14,9%. Angka harapan hidup yang tinggi dan tingkat kelahiran yang rendah, ditambah migrasi besar-besaran ke Timur Tengah, Eropa, dan Australia, telah mengubah struktur keluarga tradisional India.
Kepala departemen baru itu, Dr Rathan Kelkar, menjelaskan bahwa strategi utamanya adalah ageing in place—memungkinkan lansia tetap tinggal di rumah dan komunitas mereka, bukan di panti jompo. Rencananya mencakup perluasan perawatan berbasis rumah dan komunitas, pelatihan pengasuh bersertifikat, pembangunan taman lansia, pusat penitipan harian, serta fasilitas kebugaran. Survei lansia skala negara bagian akan menjadi dasar peta jalan Silver Economy jangka panjang. "Penuaan bukan lagi sekadar masalah kesejahteraan," ujar Kelkar. "Ini menyentuh layanan kesehatan, perumahan, transportasi, tata kelola lokal, teknologi, ketenagakerjaan, keselamatan, layanan keuangan, dan kehidupan komunitas."
Namun, tantangan terbesar justru bersifat emosional. Seorang profesional TI asal Kerala yang kini tinggal di Sydney mengaku rutin mengirim uang ke orang tuanya, tetapi merasa tak berdaya saat mereka sakit. "Dukungan finansial saja tidak cukup. Kehadiran fisik saat keadaan darurat medis—atau sekadar dukungan emosional—tidak bisa digantikan uang." Keluhan serupa juga disampaikan Dr Prasun Chatterjee, kepala unit geriatri di Apollo Hospital Delhi. "Pasien saya bertanya, jika mereka nanti tergantung, siapa yang akan merawat mereka?" Banyak lansia khawatir soal hal yang lebih mendesak: siapa yang akan mengantar mereka ke rumah sakit jika jatuh sakit di tengah malam.
Kerala sebenarnya bukan memulai dari nol. Program pensiun dan Vayomithram—sistem perawatan paliatif berbasis komunitas yang banyak dipelajari—sudah berjalan. "Yang hilang adalah mekanisme kelembagaan tunggal yang menyatukan semua sektor, mengidentifikasi celah, membangun konvergensi, dan merencanakan masa depan," kata Kelkar. Namun ia mengakui infrastruktur saja tidak cukup. "Kesepian dan isolasi sosial telah menjadi tantangan utama penuaan di Kerala." Untuk itu, departemennya tengah menjajaki jaringan sukarelawan dan program komunitas. "Visi kami, tidak ada lansia di Kerala yang merasa tak terlihat atau ditinggalkan, di mana pun anak-anak mereka tinggal."
Di sisi lain, anggaran 100 juta rupee untuk tahun ini dinilai sebagian pihak hanya bersifat simbolis. Kelkar membantah, menyebut dana itu untuk membangun kapasitas koordinasi, proyek percontohan, dan sistem data. "Pemerintah memandang penuaan bukan sebagai proyek jangka pendek, melainkan prioritas pembangunan jangka panjang." Namun Srinivasan Govindaraj, CEO Athulya Seniorcare yang mengelola fasilitas lansia di beberapa negara bagian, mengingatkan bahwa kebijakan saja tidak cukup. "Belum ada pasar perawatan lansia yang diatur dengan baik. Banyak pemain kecil, tapi tidak ada standar seragam atau ukuran kualitas." Ia mendorong ekosistem perawatan yang tepercaya dan teregulasi, terutama bagi keluarga yang tak mampu membayar solusi privat.
Bagi MSR Dev, pensiunan ilmuwan berusia 82 tahun, pertanyaan mendasarnya adalah apakah lansia tetap terhubung dengan dunia di sekitar mereka. Ia mencontohkan Swedia, di mana sistem dukungan komunitas membantu lansia tetap aktif dan mandiri. "Bukan hanya soal makanan atau layanan kesehatan. Sebagai makhluk sosial, orang butuh tempat untuk terhubung." Sementara itu, Dominic dan Martha tidak menunggu kebijakan. Mereka tetap bergantung pada tetangga, seperti biasa. "Yang kami butuhkan sederhana," kata Martha. "Seseorang yang bisa dihubungi dan benar-benar datang." Pertanyaan besarnya: mampukah departemen baru Kerala menyediakan kehadiran itu, di tengah keluarga yang terpisah lautan dan zona waktu?



