Belanja Prabowo 2027 Diprediksi Dongkrak Inflasi, Suku Bunga Tinggal Landas
Baca dalam 60 detik
- Peningkatan belanja pemerintah jelang Pemilu 2027 diperkirakan memicu lonjakan inflasi dan menunda pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral Nigeria.
- Analis menilai kombinasi belanja fiskal agresif dan harga minyak tinggi akan memperkuat tekanan harga, mengulang pola siklus pemilu 2011.
- Kondisi likuiditas yang longgar berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan sikap hawkish hingga paruh kedua 2026.

Nigeria diprediksi menghadapi tekanan inflasi yang semakin berat memasuki kuartal ketiga tahun ini, didorong oleh gelombang belanja pemerintah menjelang pemilu 2027. Analis pasar memperkirakan Bank Sentral Nigeria (CBN) akan kesulitan menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat, karena lonjakan jumlah uang beredar dan permintaan valuta asing diperkirakan mempercepat laju inflasi.
Divisi riset Zedcrest Securities Limited dalam laporan terbarunya mengungkapkan bahwa siklus pemilu di Nigeria secara historis selalu diikuti oleh akselerasi inflasi, terutama ketika ditopang oleh pendapatan minyak yang melimpah. Pada siklus pemilu 2011, saat harga minyak mentah berada di kisaran 95 dolar AS per barel, inflasi melonjak hingga sekitar 12,8 persen. Sebaliknya, pada 2015 ketika harga minyak ambruk ke level 40โ50 dolar AS, tekanan inflasi jauh lebih moderat meskipun kondisi politik serupa.
โDengan anggaran 2026 Nigeria yang dipatok pada patokan harga minyak sekitar 64 dolar AS per barel, sementara proyeksi kami masih mendekati 80 dolar AS, dan nilai tukar yang relatif stabil di sekitar 1.380 naira per dolar AS, ruang fiskal diprediksi membaik menjelang siklus pemilu,โ tulis analis Zedcrest. Belanja pemerintah yang lebih tinggi, intervensi sosial, dan pencairan dana yang sensitif secara politik diperkirakan akan memperkuat tekanan inflasi inti hingga paruh kedua 2026.
Konflik di Timur Tengah turut memperburuk indeks harga konsumen Nigeria melalui kenaikan harga minyak internasional yang mendorong harga bahan bakar domestik. Meskipun prospek kesepakatan damai AS-Iran diperkirakan dapat meredakan risiko kenaikan harga energi global, tekanan inflasi dari sisi domestik diperkirakan tetap kuat. Stabilitas nilai tukar naira yang sempat menguat tipis 0,12 persen month-on-month pada Mei membantu meredam inflasi impor, namun efeknya mulai terbatas.
Bagi Indonesia, dinamika ini memberikan pelajaran berharga. Pola belanja pemerintah menjelang pemilu serupa juga kerap terjadi di dalam negeri, meskipun dengan skala dan struktur fiskal yang berbeda. Tekanan inflasi yang dipicu oleh belanja politik dan kenaikan harga komoditas global menjadi tantangan bersama negara berkembang. Bank Indonesia pun perlu mencermati potensi efek rambatan dari kebijakan moneter ketat Nigeria terhadap arus modal dan nilai tukar regional.
Ke depan, para pelaku pasar akan mencermati langkah CBN dalam menyeimbangkan antara mendorong pertumbuhan melalui belanja pemilu dan menjaga stabilitas harga. Jika inflasi terus merangkak naik, bukan tidak mungkin suku bunga acuan justru akan dinaikkan lagi, bukan diturunkan. Pertanyaannya, sejauh mana disiplin fiskal mampu bertahan di tengah godaan politik tahun pemilu?



