Laser Pointer Diarahkan ke Kandang Monyet Viral Punch di Jepang, Kebun Binatang Tingkatkan Keamanan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengunjung mengarahkan laser pointer ke kandang monyet Punch di Kebun Binatang Chiba, Jepang, dan mengunggah videonya ke media sosial.
- Petugas kebun binatang menyatakan tindakan itu berbahaya karena dapat menyebabkan stres pada hewan bahkan kebutaan, meski monyet-monyet tidak terluka.
- Insiden ini terjadi setelah dua warga Amerika ditangkap karena masuk tanpa izin ke kandang yang sama, mendorong pengelola memperketat area pengamatan.

Kebun Binatang Chiba di Jepang kembali menjadi sorotan setelah seorang pengunjung dengan sengaja mengarahkan sinar laser ke kandang monyet ekor panjang bernama Punch, yang sebelumnya viral karena tingkah lakunya yang unik. Video aksi tersebut diunggah ke media sosial, memicu kekhawatiran publik terhadap keselamatan satwa di fasilitas itu.
Menurut pernyataan pihak kebun binatang pada Rabu (25/6), insiden itu diperkirakan terjadi sekitar sepekan lalu. Meskipun tidak ada monyet yang terluka secara fisik, petugas menegaskan bahwa tindakan semacam itu sangat berbahaya. Sinar laser dapat menyebabkan stres akut pada hewan dan, dalam kasus ekstrem, berpotensi merusak retina hingga menyebabkan kebutaan.
"Ini sangat berbahaya. Kami akan mengambil tindakan tegas, termasuk mengusir pelaku langsung dari area kebun binatang," ujar seorang pejabat kebun binatang, seperti dikutip Kyodo News. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa interaksi sembarangan dengan satwa liar di penangkaran bisa berakibat fatal.
Punch sendiri menjadi sensasi global setelah videonya menggendong boneka orangutan viral di media sosial. Monyet yang ditinggalkan induknya itu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara, menjadikannya ikon kebun binatang setempat. Popularitasnya justru membuatnya rentan terhadap ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.
Kasus ini bukan yang pertama kali terjadi di kebun binatang yang sama. Pada pertengahan Mei lalu, polisi prefektur Chiba menangkap dua pria berkewarganegaraan Amerika Serikat yang diduga bersekongkol untuk menyusup ke dalam kandang monyet. Keduanya dijatuhi denda sebesar 300.000 yen atau sekitar Rp31 juta per orang pada awal Juni. Insiden berulang ini menunjukkan lemahnya pengawasan di titik-titik tertentu, meskipun pengelola telah berupaya meningkatkan keamanan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Di dalam negeri, interaksi negatif antara pengunjung dan satwa di kebun binatang juga kerap terjadi, seperti memberi makan sembarangan atau memprovokasi hewan. Otoritas kebun binatang di Indonesia dapat meniru langkah Chiba dengan memperketat area terlarang dan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar. Edukasi kepada pengunjung tentang etika berwisata satwa juga perlu digalakkan agar kejadian serupa tidak terulang.
Ke depan, kebun binatang di seluruh dunia harus beradaptasi dengan era digital di mana aksi negatif mudah diviralkan. Pertanyaannya, apakah sanksi denda dan perluasan area terbatas cukup untuk mencegah ulah oknum, atau diperlukan teknologi pengawasan yang lebih canggih seperti kamera termal dan detektor laser? Jawabannya akan menentukan masa depan konservasi satwa di tengah tekanan pariwisata modern.



