Misi Moises Henriques: Membawa Portugal ke Panggung T20 World Cup
Baca dalam 60 detik
- Mantan pemain Australia, Moises Henriques, memimpin Portugal dalam kualifikasi Piala Dunia T20 di Finlandia, sebuah langkah yang bisa mengubah sejarah kriket negara tersebut.
- Henriques, yang lahir di Madeira, melihat ini sebagai misi pribadi untuk terhubung kembali dengan tanah kelahirannya dan mengembangkan kriket di Eropa.
- Keberhasilan Italia menjadi inspirasi, tetapi tantangan seperti lapangan sintetis dan pemulihan cedera menjadi ujian bagi tim berperingkat 37 dunia ini.

Moises Henriques, mantan pemain kriket Australia yang telah pensiun dari kompetisi domestik, kini mengemban misi baru yang tak kalah ambisius: membawa Portugal lolos ke Piala Dunia T20 putra untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pria berusia 39 tahun yang lahir di Funchal, Madeira, ini akan memimpin tim Portugal dalam turnamen kualifikasi sub-regional Eropa di Finlandia yang dimulai Jumat (26/7). Bagi Henriques, ini bukan sekadar pertandingan, melainkan sebuah pencapaian puncakโ"nirwana"โdi penghujung kariernya.
Henriques bukan nama asing di dunia kriket. Ia mencatatkan 420 penampilan di semua format untuk Australia, termasuk empat Test, 16 ODI, dan 24 T20 antara 2009 hingga 2021. Namun, keputusannya untuk membela Portugal, negara kelahirannya, menunjukkan dimensi emosional yang mendalam. "Saya bahkan tidak tahu Portugal punya tim kriket sampai lima tahun lalu," ujarnya dalam wawancara dengan BBC Stumped. Kini, ia justru terkesan dengan kualitas skuad yang ada, yang menurutnya berisi banyak pemain berpengalaman.
Kualifikasi di Finlandia akan menjadi ujian berat. Portugal tergabung dalam Grup B bersama Republik Ceko, Jerman, Yunani, dan Israel dalam turnamen yang diikuti 10 tim. Jika berhasil melaju, mereka akan menghadapi babak kualifikasi regional Eropa melawan Skotlandia, Jersey, dan Denmark tahun depan. Henriques mencontohkan Italia yang berhasil tampil di Piala Dunia T20 perdana mereka tahun ini, padahal memulai dari level yang sama. "Itu adalah inspirasi, tapi apakah itu realistis untuk Piala Dunia ini atau berikutnya, saya tidak tahu," katanya.
Kisah Henriques adalah tentang imigrasi dan identitas. Ayahnya, Alvaro, pindah ke Sydney saat Henriques berusia dua tahun demi kehidupan yang lebih baik. Alvaro, mantan pemain sepak bola divisi dua di Portugal, kini bekerja di gudang. Henriques dan dua adiknya tumbuh di Australia, dan kriket menjadi sarana untuk merasa menjadi bagian dari komunitas. "Kriket memberi saya kepercayaan diri yang saya butuhkan sebagai anak-anak," kenangnya. Kini, ia kembali ke akar budayanya, dan mengenakan seragam Portugal terasa seperti mewakili "tanah air" dalam arti yang sesungguhnya.
Henriques bukan satu-satunya pemain profesional di skuad Portugal. Ada Cameron Shekleton (26), pemukul yang pernah bermain kriket kelas satu di Afrika Selatan dan tampil untuk Proteas A, serta Craig Cachopa (34), mantan kapten U-19 Selandia Baru yang pernah mewakili Sussex, Auckland, dan Wellington. Kehadiran mereka membuat Henriques optimistis, meski ia juga sadar akan tantangan teknis, seperti bermain di lapangan sintetis untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, plus pemulihan dari operasi punggung lima bulan lalu.
Bagi Indonesia, kisah Henriques menyoroti potensi diaspora dalam mengembangkan olahraga. Indonesia sendiri memiliki pemain keturunan yang memperkuat tim nasional di berbagai cabang, dan kriket mulai mendapat perhatian di Asia Tenggara. Keberhasilan Portugal bisa menjadi contoh bagaimana negara dengan basis kriket kecil bisa bersaing di level global dengan memanfaatkan pemain berpengalaman dari luar.
Henriques menegaskan bahwa misinya bukan hanya soal hasil, tetapi juga dampak jangka panjang. "Saya berharap kami bisa memberikan dampak positif untuk mengembangkan kriket di Portugal, dan mungkin Eropa secara lebih luas," ujarnya. Dengan semangat yang sama, ia bercanda bahwa jika berhasil membawa Portugal ke Piala Dunia, mungkin akan ada "helipad" yang dinamai sesuai namanya di Madeira, mengingat pulau itu juga terkenal dengan Cristiano Ronaldo.
Pertanyaannya sekarang: dapatkah Henriques dan timnya mengatasi tantangan lapangan sintetis dan tekanan turnamen untuk menciptakan kejutan? Atau akankah mimpi itu harus menunggu edisi berikutnya? Satu hal yang pasti, perjalanan Henriques dari Sydney ke Helsinki adalah bukti bahwa kriket mampu merajut kembali benang merah identitas yang sempat terputus oleh jarak dan waktu.



