Dukungan CAF untuk Infantino Tak Jamin Soliditas Suara Afrika di Pemilihan FIFA
Baca dalam 60 detik
- Dukungan resmi CAF terhadap Gianni Infantino tidak serta-merta menjamin seluruh 54 anggota Afrika akan memilihnya pada Kongres FIFA Maret mendatang.
- Sejarah menunjukkan Afrika kerap memecah suara, seperti saat CAF mendukung kandidat lain namun mayoritas negara memilih Blatter atau Infantino.
- Kontroversi rencana penjualan hak komersial Piala Dunia bisa mengubah dukungan, dengan lima negara Afrika sudah menyatakan dukungan formal dalam sepekan terakhir.

Menjelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung di Maroko pada 17 Maret, Presiden Gianni Infantino mengandalkan dukungan blok Afrika untuk mempertahankan kursinya. Namun, dukungan resmi dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) tidak menjamin soliditas suara dari 54 asosiasi anggotanya, mengingat sejarah panjang Afrika yang kerap memecah suara dalam pemilihan presiden FIFA.
Infantino, yang telah menjabat sejak 2016, memang populer di kalangan asosiasi Afrika karena berhasil meningkatkan dana hibah FIFA secara signifikan selama satu dekade terakhir. Namun, dukungan CAF dalam pemilihan sebelumnya sering kali diabaikan oleh anggota-anggotanya. Pada 1998, misalnya, CAF bersekutu dengan UEFA yang mendukung Lennart Johansson, tetapi mayoritas negara Afrika justru memilih Sepp Blatter. Empat tahun kemudian, saat presiden CAF Issa Hayatou menantang Blatter, sebagian besar negara Afrika kembali memilih Blatter.
Fenomena serupa terjadi pada 2016 ketika CAF mendukung Sheikh Salman dari Bahrain, namun banyak negara Afrika yang membantu Infantino menang di putaran kedua. Bahkan pada 2018, ketika CAF mendukung tawaran Maroko untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, sebelas negara Afrika memilih tawaran bersama Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, sebagian besar karena sengketa wilayah Sahara Barat yang berkepanjangan.
Ketegangan terbaru muncul setelah terungkap rencana Infantino untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia, yang memicu kemarahan UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan CONCACAF. Meskipun semua asosiasi Afrika menulis surat dukungan pada Kongres FIFA di Vancouver bulan April lalu, surat itu ditulis sebelum kontroversi ini pecah. Beberapa presiden asosiasi Afrika kini menyatakan keterkejutan atas reaksi keras terhadap Infantino, namun memilih untuk tidak berkomentar secara terbuka sambil menunggu munculnya kandidat penantang.
Meskipun dukungan terhadap Infantino tampak kuat, situasi bisa berubah jika pemberontakan terbuka yang dihadapinya dalam dua pekan terakhir semakin intensif. Beberapa presiden asosiasi Afrika, seperti Mathurin de Chacus dari Benin dan Alexandre Muyenge dari Burundi, menyatakan dukungan mereka. De Chacus menilai tidak ada alasan untuk tidak mendukung Infantino, sementara Muyenge menganggap rekam jejaknya baik dan logis untuk didukung, terutama bagi negara-negara kurang mampu.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan karena Indonesia sebagai anggota FIFA memiliki satu suara. Meskipun tidak secara langsung terlibat dalam politik internal Afrika, hasil pemilihan presiden FIFA akan memengaruhi arah kebijakan sepak bola global, termasuk distribusi dana pengembangan dan peluang menjadi tuan rumah turnamen. Indonesia, yang tengah berupaya meningkatkan prestasi sepak bola nasional, perlu mencermati siapa yang akan memimpin FIFA ke depan, karena hal ini dapat berdampak pada program pengembangan sepak bola di tanah air.
Dengan batas waktu pendaftaran kandidat pada 18 November, masih ada peluang bagi munculnya penantang. Pertanyaannya, akankah Afrika tetap solid mendukung Infantino atau kembali memecah suara seperti yang sering terjadi? Keputusan ini tidak hanya menentukan masa depan Infantino, tetapi juga arah tata kelola sepak bola dunia dalam empat tahun ke depan.



