Eddie Jones Ajak Samurai Biru Belajar dari Formasi Angsa demi Kalahkan Australia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Jepang, Eddie Jones, menggunakan video formasi terbang angsa sebagai metode latihan taktis untuk meningkatkan dukungan pemain.
- Kekalahan tipis 32-35 dari Australia di Osaka memicu evaluasi besar-besaran, terutama pada aspek support play yang menjadi sorotan utama.
- Pertandingan kedua melawan Wallabies di Townsville menjadi ujian nyata apakah pendekatan non-konvensional Jones mampu membawa Jepang meraih kemenangan perdana di seri ini.

Menjelang laga kedua melawan Australia di Townsville, pelatih tim nasional Jepang, Eddie Jones, kembali menunjukkan keunikannya dengan memutar video formasi terbang angsa di sesi latihan. Metode yang terkesan tidak lazim ini dipilihnya untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya pergerakan kolektif dan dukungan terhadap pembawa bola, sebuah aspek yang menjadi kelemahan Jepang pada pertemuan pertama.
Jones, pelatih asal Australia yang dikenal dengan pendekatan inovatif, meyakini bahwa pola terbang angsa yang teratur dan saling mengikuti memiliki kemiripan dengan pola serangan yang ideal dalam rugby. "Kepala kawanan angsa itu seperti pembawa bola. Pembawa bola adalah raja, dan yang lainnya harus mengikuti," ujarnya. Ia menambahkan bahwa angsa dapat terbang ribuan mil dalam formasi yang rapi, dan setiap individu bertanggung jawab untuk merespons pergerakan pemimpinnya.
Kekalahan tipis 32-35 dari Australia di Osaka akhir pekan lalu menjadi pemicu introspeksi. Jones menyoroti kurangnya dukungan pemain (support play) sebagai salah satu faktor utama yang membuat Jepang gagal mengamankan kemenangan. "Kami sangat kecewa kehilangan pertandingan terakhir, jadi hal terpenting sekarang adalah bagaimana kami menghadapi pertandingan ini," kata Jones. Ia menegaskan bahwa timnya telah menetapkan target untuk tampil lebih agresif dan memberikan perlawanan sengit kepada Australia.
Metode pelatihan yang tidak konvensional ini sejalan dengan reputasi Jones sebagai pelatih yang selalu mencari keunggulan kecil di lapangan. Sebelumnya, ia pernah menggunakan berbagai pendekatan psikologis dan teknis untuk memotivasi para pemainnya. Namun, penggunaan video angsa ini menjadi sorotan karena dianggap terlalu abstrak oleh sebagian pengamat.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, pendekatan Jones ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kerja sama tim dan inovasi dalam strategi. Meski terkesan aneh, metode semacam ini justru menunjukkan bahwa dalam olahraga profesional, berpikir di luar kebiasaan sering kali menjadi kunci untuk meraih keunggulan kompetitif. Indonesia, yang tengah mengembangkan olahraga rugby, dapat mengambil inspirasi dari keberanian Jones untuk mencoba hal-hal baru.
Pertandingan kedua ini akan menjadi ujian nyata bagi efektivitas metode Jones. Apakah formasi angsa mampu mengubah nasib Jepang? Atau justru menjadi bahan tertawaan lawan? Yang jelas, Jones tidak pernah ragu untuk mengambil risiko demi mencapai hasil maksimal. Pertanyaannya, apakah para pemain Jepang mampu menerjemahkan filosofi angsa menjadi kemenangan di lapangan hijau?



