Serangan Anjing Rabies di Jembrana Kembali Sorot Krisis Kesehatan Bali
Baca dalam 60 detik
- Serangan anjing rabies di Jembrana melukai tiga warga, termasuk dua anak-anak, memicu kekhawatiran baru akan penyebaran virus di Bali.
- Sepanjang Januari-Mei 2025, Bali mencatat lebih dari 29.300 kasus gigitan hewan penular rabies, dengan lima kematian manusia sejak awal tahun.
- Pemerintah setempat akan menggencarkan vaksinasi massal anjing, namun populasi anjing yang besar dan rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan.

Serangan seekor anjing rabies di Kabupaten Jembrana, Bali, yang melukai tiga orang—termasuk dua anak balita—kembali menyoroti krisis rabies yang belum teratasi di Pulau Dewata. Peristiwa pada 15 Juni lalu di Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, itu menjadi pengingat bahwa Bali masih menjadi salah satu provinsi dengan kasus rabies tertinggi di Indonesia.
Anjing peliharaan berusia tiga tahun yang dibiarkan berkeliaran bebas tiba-tiba menyerang warga yang sedang berkumpul dalam sebuah acara komunitas. Tiga korban, yakni seorang dewasa (47) serta dua anak berusia lima dan empat tahun, mengalami luka gigitan. Warga setempat segera mengusir anjing tersebut, namun keesokan harinya hewan itu ditemukan mati setelah menunjukkan gejala rabies seperti kehilangan koordinasi gerak.
Uji laboratorium terhadap sampel otak anjing mengonfirmasi keberadaan virus rabies. Petugas kesehatan pun segera memberikan vaksinasi anti-rabies pascapajanan kepada para korban untuk mencegah timbulnya gejala fatal.
Kepala Divisi Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, menyatakan pihaknya akan meluncurkan vaksinasi massal di sekitar lokasi serangan. “Vaksinasi massal sangat mendesak mengingat tingginya kasus rabies di Jembrana semester pertama tahun ini,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com. Ia juga mengimbau warga untuk tidak membiarkan hewan peliharaan berkeliaran bebas dan segera melapor jika digigit atau melihat hewan berperilaku aneh.
Insiden ini terjadi hanya beberapa pekan setelah seorang ibu rumah tangga di Jembrana meninggal akibat rabies pada 24 Mei. Korban digigit kucing liar saat menjemur pakaian, namun tidak mencari pengobatan medis dan hanya mencuci luka dengan sabun. Gejala seperti hidrofobia dan aerofobia muncul sebulan kemudian, dan ia meninggal sehari setelah dirawat di fasilitas kesehatan.
Rabies, yang hampir 100 persen fatal setelah gejala muncul, sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi dini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat anjing bertanggung jawab atas hingga 99 persen kasus rabies pada manusia. Di Indonesia, rabies endemis di 26 dari 38 provinsi, dengan Bali dan Nusa Tenggara Timur mencatat kasus tertinggi setiap tahun.
Meski angka kematian manusia di Bali menurun dari 16 jiwa pada 2024 menjadi lima jiwa hingga pertengahan 2025, lonjakan kasus gigitan hewan menunjukkan bahwa rantai penularan masih kuat. Populasi anjing yang besar dan kebiasaan melepasliarkan hewan peliharaan menjadi faktor utama. Pertanyaannya, mampukah program vaksinasi massal dan edukasi masyarakat menekan angka tersebut sebelum musim liburan yang biasanya meningkatkan interaksi manusia-hewan?



