Jenny Simpson Selamat dari Henti Jantung, Mantan Juara Dunia Lari Pulih di Rumah
Baca dalam 60 detik
- Atlet lari legendaris AS, Jenny Simpson, mengalami henti jantung mendadak saat memandu lomba lari komunitas di Raleigh, Carolina Utara.
- Berkat CPR dan defibrillator eksternal otomatis (AED) yang diberikan segera di lokasi, Simpson berhasil diselamatkan dan kini telah dipulangkan dari rumah sakit.
- Kejadian ini menyoroti pentingnya kesiapan alat penyelamat dan pelatihan tanggap darurat di acara olahraga, termasuk di Indonesia yang tengah menggeliatkan event lari.

Mantan juara dunia lari jarak menengah asal Amerika Serikat, Jenny Simpson, dinyatakan telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah mengalami henti jantung mendadak saat memandu sebuah acara lari komunitas di Raleigh, Carolina Utara, pertengahan Juni lalu. Peristiwa yang nyaris merenggut nyawa atlet berusia 39 tahun itu menjadi pengingat keras akan pentingnya respons cepat dalam penanganan kegawatdaruratan jantung di arena olahraga.
Simpson, yang pensiun dari dunia lari kompetitif pada 2024, saat itu tengah bertugas sebagai pacemaker atau pemandu kecepatan untuk kelompok lari satu mil dalam acara Sir Walter Running Pop Up Mile. Tanpa diduga, ia kolaps di lintasan dan membutuhkan resusitasi jantung paru (CPR) segera. Beruntung, tim medis di lokasi langsung memberikan pertolongan pertama termasuk penggunaan alat defibrillator eksternal otomatis (AED) sebelum Simpson dilarikan ke UNC Rex Hospital dan kemudian dirujuk ke Duke University Hospital.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di Instagram, Fleet Feet โ perusahaan tempat Simpson menjabat sebagai Chief Running Officer โ menyampaikan rasa syukur atas keselamatan sang atlet. Mereka menekankan bahwa penanganan cepat di lokasi kejadian, termasuk CPR dan AED, menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan nyawa Simpson. โJenny mengalami henti jantung mendadak dan menerima perawatan penyelamatan jiwa segera,โ tulis Fleet Feet.
Karier Simpson di lintasan memang gemilang. Selain gelar juara dunia 2011, ia juga dua kali menjadi runner-up dunia (2013 dan 2017) dan meraih medali perunggu Olimpiade. Namanya dikenal sebagai salah satu pelari jarak menengah terbaik Amerika Serikat. Namun, insiden ini menunjukkan bahwa kondisi fisik prima sekalipun tidak menjamin seseorang kebal dari gangguan jantung mendadak.
Konteks Indonesia: Di tengah maraknya event lari komunitas dan maraton di Tanah Air, kasus Simpson menjadi pelajaran berharga. Banyak penyelenggara lomba di Indonesia belum sepenuhnya menyediakan AED atau personel terlatih CPR di setiap titik rawan. Padahal, henti jantung mendadak bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia atau kebugaran. Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FOMI) dan Asosiasi Penyelenggara Lari Indonesia diharapkan dapat mendorong standarisasi keselamatan, termasuk kewajiban keberadaan AED di setiap event resmi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah insiden ini akan mendorong perubahan regulasi keselamatan di event olahraga global, termasuk di Indonesia? Ataukah akan kembali menjadi catatan kaki yang terlupakan begitu sorotan reda? Yang jelas, nyawa Jenny Simpson terselamatkan berkat kesiapan alat dan pelatihan dasar yang dimiliki oleh orang-orang di sekitarnya. Sebuah investasi kecil yang hasilnya tak ternilai.



