Flu Burung H5 Kian Meluas di Australia, Peternak Ayam Siaga Satu
Baca dalam 60 detik
- Australia mengonfirmasi kasus keempat flu burung H5 pada burung liar, dengan satu kasus susulan masih diuji.
- Produsen unggas terbesar Australia, Inghams Group, menerapkan lockdown total di fasilitas Australia Barat meski belum ada kasus pada unggas komersial.
- Penyebaran global H5 ke mamalia seperti sapi dan anjing laut meningkatkan kewaspadaan, meski risiko terhadap manusia dinilai masih rendah.

Australia kembali mencatatkan temuan flu burung H5 pada burung liar, kali ini menimpa seekor petrel raksasa di Australia Barat. Otoritas veteriner setempat mengonfirmasi ini sebagai kasus keempat, sementara sampel dari burung kelima tengah diuji di laboratorium CSIRO.
Kepala Dokter Hewan Australia, Dr. Beth Cookson, menyatakan bahwa dua kasus sebelumnya juga ditemukan di Australia Barat dan satu di Australia Selatan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa sejauh ini penularan hanya terdeteksi pada burung laut migran yang sesekali singgah di wilayah selatan benua. “Belum ada bukti kejadian kematian massal dan tidak ada temuan pada unggas atau sistem produksi pertanian,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Kekhawatiran utama justru menyasar sektor peternakan. Inghams Group Ltd., produsen ayam terbesar yang terdaftar di bursa Australia, langsung menerapkan lockdown total di fasilitas Australia Barat. Langkah ini diambil sebagai antisipasi meskipun belum ada kasus positif pada unggas komersial. Langkah serupa diprediksi akan diikuti oleh peternak lain jika penyebaran meluas.
Penyebaran global H5 menjadi perhatian karena virus ini mulai melompat ke mamalia, termasuk sapi perah di Amerika Serikat dan anjing laut di berbagai belahan dunia. Fenomena ini meningkatkan risiko adaptasi virus pada spesies baru, yang berpotensi memicu lonjakan kasus pada manusia. Namun, Cookson menekankan bahwa risiko terhadap kesehatan masyarakat masih rendah dan kasus pada manusia umumnya terkait kontak erat dengan hewan terinfeksi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi alarm dini. Sebagai negara dengan populasi unggas besar dan lalu lintas burung migran yang padat, sistem surveilans flu burung perlu diperkuat. Otoritas kesehatan hewan dan manusia di Tanah Air disarankan untuk meningkatkan pemantauan pada titik masuk burung liar serta memperketat biosekuriti peternakan. Meski belum ada laporan kasus H5 pada manusia di Indonesia, pengalaman flu burung H5N1 sebelumnya menunjukkan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat virus ini dapat menyebar ke peternakan komersial di Australia dan apakah langkah lockdown Inghams cukup untuk mencegah kontaminasi. Skenario terburuk—wabah pada unggas komersial—dapat memicu pembatasan ekspor dan lonjakan harga pangan, tidak hanya di Australia tetapi juga di pasar regional yang bergantung pada pasokan unggas Australia.



