Puisi Perdamaian dari Okinawa: Seorang Siswi Menyuarakan Trauma Perang Lewat Luka Nenek Buyutnya
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswi SMP di Okinawa membacakan puisi tentang perang yang terinspirasi dari luka di kaki nenek buyutnya, korban serangan udara AS pada Perang Dunia II.
- Puisi berjudul 'Bukti Keinginan untuk Hidup' itu menekankan bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan diperjuangkan dengan air mata dan penderitaan.
- Kisah ini mengingatkan bahwa trauma perang masih membekas di generasi ketiga, dan pentingnya menjaga ingatan kolektif agar konflik tak terulang.

Seorang siswi berusia 14 tahun di Okinawa, Jepang, membacakan puisi karyanya sendiri dalam upacara peringatan Hari Peringatan Okinawa, 23 Juni lalu. Puisi itu lahir dari ingatan tentang luka sepanjang 10 sentimeter di paha kanan nenek buyutnya, Yoshi Uechi, yang selamat dari bombardir Perang Dunia II. Bagi Runa Kameya, luka itu bukan sekadar bekas fisik, melainkan simbol perjuangan hidup di tengah kengerian perang.
Upacara tahunan di Taman Perdamaian Itoman, Okinawa, menjadi momentum bagi Runa untuk menyampaikan puisi berjudul “Bukti Keinginan untuk Hidup”. Ia menulisnya setelah merenungkan pengalaman nenek buyutnya yang menceritakan kisah perang hanya sekali seumur hidup. “Wajahnya yang biasanya ceria berubah muram, dan ia berbicara sambil menangis,” kenang Runa. Yoshi, yang berasal dari Pulau Ishigaki, pernah tinggal di Pulau Rota (wilayah mandat Jepang) dan Taiwan (koloni Jepang), dan mengalami serangan udara Amerika Serikat.
Dalam kepanikan saat bom berjatuhan, Yoshi mengambil batu dan melukai kakinya sendiri. Runa mengaku tak pernah berani menanyakan alasan di balik tindakan itu. “Saya belum pernah melihatnya begitu sedih. Saya pikir ia berusaha keras untuk bercerita,” ujar Runa. Yoshi meninggal beberapa tahun setelah membagi kisahnya, di usia 95 tahun.
Bagi Runa, perjalanan memahami perang dimulai saat kunjungan sekolah ke shelter perang di tahun pertama SMP. Ia mulai rajin berdiskusi dengan keluarga dan mengunjungi museum lukisan bertema perang. Semakin dalam ia belajar, luka di kaki Yoshi tak lagi hanya mewakili horor perang, melainkan tekad untuk bertahan hidup. “Kita ada di sini hari ini karena ada orang-orang yang, bahkan dalam situasi perang yang ekstrem, tidak pernah menyerah pada hidup dan bertahan dengan tekad yang tak tergoyahkan,” kata Runa dalam pidatonya.
Puisi Runa menyuarakan pesan universal: “Perdamaian bukanlah sesuatu yang diberikan; ia bertumpu pada air mata, penderitaan, dan keinginan tulus untuk hidup dari banyak orang.” Setelah pembacaan, Runa mengaku gugup tetapi bersyukur bisa menyampaikan pesan itu. Ia berpesan kepada Yoshi: “Teruslah awasi aku, karena aku akan terus mewariskan kepada generasi mendatang bahwa perang tidak boleh terjadi lagi.”
Kisah Runa menjadi pengingat bahwa luka perang tak hanya fisik, tetapi juga psikologis yang menurun lintas generasi. Di Indonesia, pengalaman serupa dialami oleh keluarga korban konflik masa lalu, seperti tragedi 1965 atau konflik di Aceh dan Papua. Trauma yang tak terselesaikan kerap muncul dalam bentuk keheningan atau luka batin yang diwariskan. Upaya seperti yang dilakukan Runa—menjadikan ingatan sebagai puisi—bisa menjadi model bagi generasi muda Indonesia untuk mengolah sejarah kelam menjadi pembelajaran perdamaian.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah generasi ketiga dan keempat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, terus merawat ingatan kolektif tanpa membiarkan trauma menghalangi rekonsiliasi? Ataukah luka lama akan kembali menganga ketika konflik baru muncul?



