Kampanye 'Phone Sleeps First' Buktikan Mahasiswa Bisa Kurangi Layar Sebelum Tidur
Baca dalam 60 detik
- Sebuah proyek mahasiswa NTU berhasil memangkas waktu penggunaan ponsel mahasiswa sebelum tidur hingga 81 menit per malam.
- Pendekatan berbasis komunitas dan tips praktis dinilai lebih efektif daripada larangan keras dalam mengubah kebiasaan buruk.
- Temuan ini relevan bagi Indonesia, di mana penetrasi ponsel tinggi dan gangguan tidur pada generasi muda makin mengkhawatirkan.

Kebiasaan menatap layar ponsel hingga larut malam bukan sekadar masalah disiplin diri, melainkan ancaman nyata bagi kualitas tidur dan produktivitas generasi muda. Sebuah inisiatif mahasiswa di Singapura membuktikan bahwa perubahan kecil yang konsisten, ditopang dukungan sebaya, mampu memangkas waktu layar sebelum tidur secara signifikan.
Proyek bertajuk “Phone Sleeps First” yang digagas empat mahasiswa jurusan komunikasi Nanyang Technological University (NTU) pada Oktober 2025 lalu melibatkan 313 mahasiswa dari enam universitas otonom di Singapura. Para peserta mengikuti setidaknya satu dari empat putaran tantangan yang berlangsung tiga hingga tujuh malam. Sebelum dan sesudah tantangan, mereka mengisi survei tentang kualitas tidur, rasa kantuk di siang hari, dan kebiasaan menggunakan ponsel saat hendak tidur.
Hasilnya menggembirakan: durasi penggunaan ponsel antara pukul 22.00 hingga 06.00 turun 58 hingga 81 menit per malam. Penurunan terbesar terjadi pada tantangan tujuh malam, menandakan bahwa konsistensi membantu pembentukan kebiasaan baru. Sebanyak 81 persen peserta menyatakan niat kuat untuk mempertahankan rutinitas tidur yang lebih sehat setelah proyek berakhir.
Joy Chew, 23, salah satu penggagas proyek, mengungkapkan bahwa sebelum kampanye, para mahasiswa sebenarnya sadar akan dampak buruk penggunaan ponsel di tempat tidur. “Namun kesadaran itu tidak serta-merta mengubah kebiasaan. Fokus kami bukan sekadar meningkatkan kesadaran, melainkan mendorong perubahan perilaku,” ujarnya kepada The Straits Times. Timnya sengaja merancang tantangan yang sederhana dan mudah diadopsi: menjauhkan ponsel dari tempat tidur, mengaktifkan mode Jangan Ganggu, dan mengganti aktivitas layar dengan membaca atau menulis jurnal.
Keberhasilan kampanye ini tidak lepas dari elemen komunitas. Peserta didorong untuk bergabung dengan teman sebaya dan saling mendukung melalui kanal Telegram, tempat tips, pengingat, dan perkembangan dibagikan secara rutin. “Mereka tidak menjalani tantangan sendirian,” kata Chew. Dukungan sosial ini menjadi kunci menjaga motivasi selama proses perubahan kebiasaan.
Dokter Leonard Eng, konsultan psikiatri di Singapore General Hospital, menjelaskan bahwa penggunaan ponsel sebelum tidur menunda waktu tidur, mengurangi total durasi tidur, dan meningkatkan risiko insomnia. “Berkirim pesan, bermain game, atau men-scroll konten yang memicu emosi membuat otak sulit rileks dan terlelap,” katanya. Ia menambahkan bahwa durasi penggunaan dan tingkat stimulasi emosional konten lebih berpengaruh daripada cahaya layar itu sendiri. Kebiasaan ini juga mengondisikan otak untuk menganggap tempat tidur sebagai area hiburan, bukan sekadar tempat istirahat.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat penetrasi ponsel pintar yang tinggi di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Survei Kementerian Kesehatan tahun 2023 menunjukkan bahwa 45 persen remaja Indonesia mengalami gangguan tidur, sebagian besar terkait penggunaan gawai. Kampanye serupa yang mengedepankan perubahan bertahap dan dukungan kelompok bisa menjadi model intervensi di kampus-kampus Tanah Air. Pertanyaannya, mampukah universitas dan orang tua meniru pendekatan ini tanpa harus menunggu proyek tugas akhir?



