Di Balik Layar Queer Eye: Tan France Akui Sempat Benci Rekan Satu Acaranya
Baca dalam 60 detik
- Tan France mengaku tidak menyukai Antoni Porowski saat pertama bertemu karena dianggap terlalu baik.
- Pertengkaran dengan anggota cast lain terjadi saat syuting musim pertama terkait status Tan yang belum terbuka pada keluarganya.
- Konflik justru mempererat hubungan mereka; Tan dan Antoni kini menjadi sahabat dekat setelah saling mengakui kesalahpahaman.

Hubungan di balik layar acara realitas populer Queer Eye ternyata tidak selalu harmonis. Tan France, salah satu anggota Fab Five, mengungkapkan bahwa ia sempat tidak menyukai rekan satu acaranya, Antoni Porowski, saat pertama kali bekerja sama. Kini, keduanya justru menjadi sahabat dekat.
Dalam wawancara di podcast Dinner's On Me, Tan France menceritakan awal mula pertemuannya dengan Antoni. Ia mengaku tidak tertarik berteman dengan Antoni karena menganggapnya terlalu baik. "Saya butuh seseorang untuk bergosip setelah bekerja, dan dia bukan orang seperti itu," ujar Tan. Namun, setelah saling berterus terang, mereka justru menemukan kesamaan: sama-sama mengira yang lain terlalu manis.
Momen penting terjadi ketika Tan memutuskan untuk konfrontasi. "Saya bilang, 'Sepertinya kita tidak akan bisa berteman, dan itu sangat disayangkan.' Ternyata dia menjawab, 'Oh tidak, saya justru ingin bergosip. Saya pikir kamu yang terlalu baik,'" kenang Tan. Pertemuan itu menjadi titik balik yang mengubah hubungan mereka.
Selain dengan Antoni, Tan juga mengungkapkan perselisihan dengan anggota cast lain yang tidak disebutkan namanya. Saat syuting musim pertama, rekan satu acaranya kecewa karena Tan belum terbuka tentang orientasi seksualnya kepada keluarga. "Dia tidak tahu pengalaman saya sebagai queer Muslim, queer kulit berwarna, queer imigran. Itu argumen yang panas," kata Tan. Baginya, setiap orang punya waktu dan cara sendiri untuk keluar dari lemari (coming out).
Kisah ini relevan bagi penonton Indonesia yang mungkin menghadapi dilema serupa. Di Indonesia, isu LGBTQ+ masih sensitif dan sering tabu dibicarakan. Banyak individu queer memilih untuk tidak terbuka kepada keluarga karena takut ditolak atau bahkan diancam kekerasan. Pengalaman Tan sebagai imigran queer dari latar belakang Muslim mencerminkan perjuangan identitas ganda yang juga dialami sebagian komunitas di Tanah Air. Meski berbeda konteks budaya, pesan tentang penerimaan diri dan pentingnya dukungan dari orang terdekat tetap universal.
Ke depan, Tan berharap penonton bisa melihat bahwa hubungan antarmanusia, termasuk di industri hiburan, tidak selalu mulus. "Kami butuh waktu untuk saling memahami, dan itu wajar," pungkasnya. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan Indonesia menciptakan ruang aman bagi para talenta untuk menjadi diri sendiri tanpa tekanan?



