KATSEYE Buka Pintu untuk Manon Bannerman Kembai: Kesehatan Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Personel KATSEYE menyatakan dukungan penuh untuk Manon Bannerman yang mengambil jeda demi kesehatan mental, tanpa tekanan untuk kembali.
- Grup bentukan Netflix ini tetap menjalani jadwal aktivitas, namun menekankan bahwa pintu selalu terbuka untuk Manon kapan pun ia siap.
- Fenomena tekanan daring pada artis K-pop dan KATSEYE menjadi pengingat akan pentingnya kesejahteraan di industri hiburan global.

Grup vokal KATSEYE memastikan bahwa pintu selalu terbuka bagi Manon Bannerman, personel yang mengambil cuti tanpa batas waktu sejak Februari lalu demi kesehatan dan kesejahteraan pribadinya. Dalam pernyataan terbaru, keenam anggota lain menegaskan tidak akan terburu-buru memaksa Manon kembali, melainkan memberikan ruang dan waktu yang ia butuhkan.
Manon Bannerman, 24 tahun, mengumumkan keputusannya untuk rehat dari grup yang dibentuk melalui ajang kompetisi Netflix Pop Star Academy: KATSEYE pada 26 Februari. Pengumuman itu sontak memicu kekhawatiran di kalangan penggemar. Kini, personel lain—Yoonchae, Daniela Avanzini, Lara Raj, Megan Skiendiel, dan Sophia Laforteza—angkat bicara untuk meredakan spekulasi.
Sophia, salah satu anggota, menyatakan bahwa keputusan Manon sepenuhnya terkait kesehatannya. “Bukan tempat kami atau siapa pun untuk terburu-buru. Kami ingin memberinya semua waktu dan ruang yang dia butuhkan. Pintu selalu terbuka,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa para penggemar diharapkan terus memberikan cinta dan dukungan, tanpa tekanan.
Sebelumnya, pada saat Manon mengumumkan rehat, KATSEYE merilis pernyataan resmi yang menegaskan komitmen mereka untuk saling mendukung dan tetap tampil bagi penggemar. “Kami berkomitmen untuk terus menunjukkan kebersamaan dan menantikan saat yang tepat untuk bersatu kembali,” tulis mereka kala itu.
Fenomena tekanan mental di kalangan artis K-pop dan industri hiburan global bukanlah hal baru. Dalam wawancara dengan BBC pada November 2025, para anggota KATSEYE mengakui bahwa komentar daring kerap terasa sangat berat, bahkan hingga ancaman kematian. Sophia menghela napas saat mengatakan, “Tidak ada manusia yang seharusnya menerima begitu banyak umpan balik atas sesuatu yang mereka ciptakan. Kami belajar untuk melakukan apa yang kami cintai dan tidak menjadikan itu sebagai validasi.”
Bagi penggemar di Indonesia, kisah KATSEYE menjadi cermin betapa pentingnya kesejahteraan mental di tengah tekanan popularitas. Industri musik Tanah Air pun tak luput dari fenomena serupa, di mana para artis kerap menghadapi hujatan di media sosial. Langkah KATSEYE yang mengutamakan kesehatan anggota bisa menjadi contoh bagi label dan manajemen di Indonesia untuk lebih peka terhadap kebutuhan psikologis artis.
Ke depan, publik masih menanti keputusan Manon: akankah ia kembali memperkuat KATSEYE, atau justru memilih jalur solo? Yang jelas, grup ini telah menunjukkan bahwa solidaritas dan kesehatan mental jauh lebih berharga daripada jadwal padat atau popularitas sesaat.



