Komentar 'Sepak Bola Afrika Liar' Berujung Tuduhan Rasisme: Schweinsteiger Bantah, ARD Dukung
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang Jerman Bastian Schweinsteiger membantah tuduhan rasisme setelah menyebut gaya bermain Pantai Gading 'liar' dan 'tidak lazim'.
- Pelatih Pantai Gading Emerse Fae menilai pernyataan itu bernada rasis, namun penyiar ARD menyatakan Schweinsteiger hanya melakukan analisis taktik murni.
- Kontroversi ini membuka kembali diskusi tentang stereotip sepak bola Afrika di panggung internasional, relevan dengan persepsi terhadap tim-tim Asia termasuk Indonesia.

Mantan gelandang timnas Jerman yang kini menjadi komentator televisi, Bastian Schweinsteiger, dengan tegas menolak tuduhan rasisme yang dilayangkan pelatih Pantai Gading, Emerse Fae, terkait pernyataannya yang menyebut sepak bola Afrika sebagai permainan yang 'liar' dan 'tidak lazim'. Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui penyiar Jerman ARD, Schweinsteiger menegaskan bahwa komentarnya murni merupakan analisis taktik, bukan serangan terhadap etnis atau budaya.
Kontroversi bermula saat Schweinsteiger, yang menjadi pundit Piala Dunia 2026 untuk ARD, memberikan analisis menjelang laga Jerman melawan Pantai Gading di Toronto. Ia menyatakan bahwa Jerman harus siap menghadapi permainan yang 'tidak terduga' dari lawannya, yang ia gambarkan sebagai 'sepak bola Afrika'βsebuah gaya yang menurutnya 'sedikit tidak lazim, sedikit liar, dan tidak terlalu taktis'. Pernyataan ini sontak memicu reaksi keras dari kubu Pantai Gading.
Emerse Fae, yang berhasil membawa timnya lolos ke 32 besar setelah mengalahkan Curacao 2-0, mengungkapkan kekecewaannya. "Ketika Anda mengenal sepak bola seperti yang ia ketahui, aneh rasanya ia berbicara seperti itu... yang bisa kami sebut rasis jika kita bicara terus terang," ujar Fae. Ia menambahkan bahwa ia akan membuktikan di lapangan bahwa Afrika tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga teknik dan taktik.
Namun, ARD dengan tegas membela punditnya. Koordinator Olahraga ARD, Axel Balkausky, dalam pernyataan yang sama menegaskan bahwa diskusi tersebut murni tentang penilaian sepak bola, bukan tentang manusia. "Saya tidak mendeteksi bentuk rasisme apa pun dalam pernyataannya atau pilihan katanya," kata Balkausky. Ia bahkan menyarankan agar Fae dan Schweinsteiger berbicara langsung untuk meluruskan kesalahpahaman.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kontroversi ini bukan sekadar gosip internasional. Stereotip tentang gaya bermain 'fisik' dan 'kurang taktis' yang kerap dilekatkan pada tim-tim Afrika juga pernah dialami oleh tim-tim Asia, termasuk Indonesia, di kancah global. Persepsi semacam ini sering kali mengabaikan perkembangan taktik dan teknik yang pesat di kawasan tersebut. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa analisis sepak bola harus tetap objektif dan bebas dari generalisasi yang merendahkan.
Ke depan, pertemuan antara Schweinsteiger dan Fae di turnamen ini bisa menjadi momen untuk menjembatani kesalahpahaman. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana komunitas sepak bola global terus mendorong diskusi yang lebih inklusif dan menghormati keragaman gaya bermain. Apakah insiden ini akan memicu perubahan dalam cara pandang terhadap sepak bola non-Eropa, atau hanya akan berlalu sebagai kontroversi sesaat?



