Rotasi Pemain Norwegia: Kekalahan Telak dari Prancis, tapi Langkah Tepat Menuju Babak Gugur
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Norwegia Stale Solbakken merotasi 10 pemain inti saat kalah 1-4 dari Prancis, demi menjaga kebugaran tim menghadapi Pantai Gading di babak 32 besar.
- Keputusan ini menuai kekecewaan penggemar yang ingin melihat Erling Haaland, namun Solbakken menilai prioritas utama adalah melaju sejauh mungkin di Piala Dunia.
- Norwegia finis kedua Grup I dengan enam poin, dan akan menghadapi laga berat melawan Pantai Gading yang diunggulkan secara fisik.

Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, mengambil risiko besar dengan merotasi hampir seluruh pemain intinya saat berhadapan dengan Prancis di laga pamungkas Grup I Piala Dunia 2026. Keputusan itu berujung kekalahan telak 1-4, namun Solbakken bersikeras langkah tersebut adalah strategi jangka panjang untuk menjaga stamina tim menjelang babak gugur.
Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Boston, Foxborough, Massachusetts, Jumat (26/6) waktu setempat, Norwegia tampil tanpa 10 dari 11 pemain regulernya. Erling Haaland, sang mesin gol, bahkan hanya duduk di bangku cadangan. Alhasil, lini belakang Norwegia yang diisi pemain pelapis kesulitan mengimbangi kecepatan serangan balik Prancis. Ousmane Dembele menjadi mimpi buruk dengan mencetak trigol di babak pertama.
Solbakken mengakui timnya kerap kehilangan bola di area berbahaya, yang langsung dimanfaatkan Prancis menjadi gol. "Permainan berjalan sangat cepat begitu kami kehilangan bola beberapa kali," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Meski demikian, ia menyoroti sisi positif: Norwegia mampu menciptakan sejumlah peluang emas, termasuk penalti yang gagal dieksekusi Jorgen Strand Larsen pada awal babak kedua.
Keputusan rotasi besar-besaran ini bukannya tanpa kontroversi. Banyak penggemar yang kecewa karena tidak bisa menyaksikan aksi Haaland dan kapten Martin Odegaard. Namun, Solbakken menegaskan bahwa prioritas tim adalah melaju sejauh mungkin di turnamen, bukan sekadar memuaskan penonton. "Satu-satunya argumen untuk tidak melakukan rotasi adalah agar para penggemar bisa melihat Erling dan Martin, tapi itu berarti kami tidak akan bertahan lama di Piala Dunia," tegasnya.
Alasan di balik rotasi ini cukup praktis: kelembaban tinggi di pertandingan sebelumnya melawan Senegal membuat beberapa pemain mengalami kram otot. Tim medis dan pemain sendiri sepakat bahwa memaksakan diri bermain melawan Prancis akan berisiko cedera dan menguras tenaga. "Kami di sini untuk maju sejauh mungkin. Kini saatnya mengisi ulang baterai," tambah Solbakken.
Laga selanjutnya melawan Pantai Gading pada 30 Juni di Dallas diprediksi akan menjadi ujian berat. Solbakken menyebut tim Afrika itu sebagai salah satu yang terkuat secara fisik di turnamen. "Ini pertandingan 50-50, kami harus tampil maksimal," katanya. Bagi Norwegia, hasil melawan Prancis mungkin pahit, tetapi rotasi yang berani bisa menjadi kunci untuk melangkah lebih jauh.
Pertanyaannya kini: apakah strategi Solbakken akan membuahkan hasil, atau justru menjadi bumerang jika Norwegia gagal melewati hadangan Pantai Gading? Babak gugur akan menjadi ujian sesungguhnya.



